Penjagaan
Al-Mahdi yang Dijanjikan (aj)
Keimanan pada Imam Mahdi (aj) dalam mazhab Imamiah adalah buah dari sistem tauhid, kenabian, dan imamah; sebab wujud hujjah yang maksum di setiap masa adalah tuntutan kelembutan ilahi, dan kegaibannya adalah penjagaan atas penutup para washi hingga tibanya keadaan kemunculan dan penegakan keadilan.
Al-Mahdi yang Dijanjikan (aj)
Berangkat dari landasan-landasan akidah dan pengadilan-pengadilan rasional yang telah kami tegakkan dalam kajian tauhid, kenabian, dan imamah, menjadi jelas bagi kita bahwa gerak sejarah manusia bukanlah kesia-siaan, melainkan perjalanan bertujuan yang berjalan sesuai rencana ilahi yang kokoh. Dalam kajian ini, kami sampai pada buah akhir dari kesinambungan epistemologis ini, dengan mengargumentasikan keniscayaan wujud Imam Mahdi (Imam al-Mahdi (AS)Imam al-Mahdi (AS) — dibaca ‘al-MAH-dee’ — المهدي (ع) Imam al-Mahdi (AS): Imam kedua belas dan terakhir dalam tradisi Syiah, diyakini berada dalam okultasi dan dinantikan sebagai pemimpin yang akan menegakkan keadilan di seluruh bumi.), serta mengurai problematika yang dilontarkan seputar kegaiban dan pengenalannya dari perspektif teori pengetahuan dan metode ilmiah yang integral.
1. Dari Penciptaan menuju Risalah: Keniscayaan Kemaksuman dan Kesatuan Agama
Kami telah membuktikan dalam kajian TauhidTauhid — dibaca ‘tau-HEED’ — التوحيد Dibaca: Tawhid. Tauhid berarti keesaan Tuhan. Bukan hanya mengatakan Tuhan itu satu secara angka, tetapi juga menegaskan bahwa Dia Mahabijaksana, Mahaadil, transenden, dan tidak memiliki sekutu, batas, atau kekurangan. bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta alam semesta ini dan mengadakannya dari ketiadaan, dan Dia tidak menciptakan manusia dengan sia-sia, melainkan mengadakannya untuk tujuan teragung, yaitu penyempurnaan epistemologis, peningkatan ruhani, dan pencapaian kedekatan ilahi.
Karena akal manusia dengan sendirian tak mampu mengetahui rincian jalan penyempurnaan ini, hikmah ilahi meniscayakan pengutusan risalah dan penunjukan para nabi agar menjadi penunjuk kepada Allah. Dari sini kita sampai pada dua hakikat:
- Kesatuan agama: Agama di sisi Allah adalah satu sejak Adam (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) hingga Muhammad (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).), dan intinya adalah kepasrahan kepada Yang Mutlak dan keistikamahan atas kebenaran, dan hanya syariat serta metodenya yang beragam sesuai keragaman kesadaran umat dan kebutuhannya.
- Keniscayaan kemaksuman: Rasul yang mengemban agama ini secara rasional harus maksum, suci lagi murni dalam pemikiran, perilaku, dan penyampaiannya; sebab tanpa 'Ismah'Ismah — dibaca ‘IS-mah’ — العصمة Dibaca: Isma. Dalam teologi Syiah, ini berarti perlindungan ilahi dari dosa, kesalahan sengaja, kelupaan yang merusak bimbingan, dan kesesatan. Pada nabi dan Imam, 'ismah menjaga keandalan wahyu dan bimbingan agama. gugurlah keterpercayaan risalah, sirnalah tujuan pengutusan, dan menjadi mustahil pembatalan tujuan bagi Yang Mahabijaksana secara mutlak.
2. Kekhalifahan setelah Kenabian: Mengapa Imamah Ahlulbait (as)?
Dengan wafatnya Rasul penutup (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).), wahyu ilahi terputus, tetapi risalah yang menyeluruh dan kekal tidak berakhir kebutuhan umat manusia kepadanya. Di sini akal mengajukan keberatan yang menentukan: ketiadaan kepemimpinan yang maksum segera setelah kepergian Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) niscaya berarti hilangnya risalah dan penyimpangannya; sebab nas Qur’ani mengandung banyak sisi, ijtihad manusia tunduk pada kepentingan, syahwat, serta kecenderungan kesukuan dan politik, dan itulah yang kami buktikan secara nyata dalam kajian buah penyimpangan dan pertikaian umat seputar kekuasaan dan akidah.
Karena itu, keberlangsungan tujuan penyempurnaan mengharuskan adanya kepemimpinan yang ditetapkan Tuhankepemimpinan yang ditetapkan Tuhan — dibaca ‘ih-MAA-mah’ — الإمامة Dibaca: Imama. Imamah berarti kepemimpinan dan bimbingan. Di situs ini, istilah ini merujuk pada kelanjutan bimbingan kenabian setelah Nabi (SAW): kedudukan yang ditetapkan Tuhan, melalui Imam (AS), untuk menjaga pesan agama dan menjelaskan maknanya. sebagai perpanjangan kenabian, yang menjaga agama dari penyimpangan, menafsirkannya, dan menerapkannya. Sesuai hukum keserasian (sinkhiyyah) dan tolok ukur akidah, kepemimpinan ini harus berada di Ahlulbait kenabian (keluarga Nabikeluarga Nabi — dibaca ‘Ahl al-Bayt’ — أهل البيت (ع) Dibaca: Ahl al-Bayt. Secara harfiah berarti 'orang-orang rumah'. Di situs ini, menurut pemahaman Syiah, istilah ini merujuk secara khusus kepada Empat Belas Ma'shum: Nabi Muhammad (SAW), Sayyidah Fatimah (AS), Imam Ali (AS), Imam Hasan (AS), Imam Husayn (AS), dan sembilan Imam suci dari keturunan Imam Husayn hingga Imam al-Mahdi (AS).) tanpa selain mereka; sebab merekalah yang paling mengenal wahyu, paling berilmu tentang sunah, paling suci perilakunya, dan tidak pernah bersujud kepada berhala, sehingga mereka adalah perpanjangan syar’i dan nyata yang murni dari Islam Muhammadi yang asli.
3. Dalil dan Argumen Kewajiban Wujud Imam Maksum di Setiap Masa
Berdasarkan apa yang telah dikemukakan, tidak mungkin masa mana pun kosong dari hujjah maksum Allah atas makhluk-Nya. Keniscayaan ini dapat diperkuat dengan sejumlah argumen rasional dan riwayat yang kokoh.
Argumen Kelembutan Ilahi yang Berkesinambungan
Argumen ini menetapkan bahwa Allah Ta’ala, dari takdir kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, mendekatkan mereka kepada ketaatan dan menjauhkan mereka dari maksiat. Fungsi imam yang maksum tidak terbatas pada penyampaian hukum saja, melainkan menjaga agama, menegakkan keadilan, dan membimbing umat secara ruhani dan tekwini. Karena kelembutan ilahi itu wajib, berkesinambungan, dan tak terputus, maka wujud hujjah yang hidup di setiap masa adalah perwujudan kelembutan ini.
Argumen Tujuan Penciptaan dan Perantara Limpahan
Alam ini tak tegak kecuali di atas tujuan penyempurnaan. Dalam filsafat dan irfan Islam, Manusia SempurnaManusia Sempurna — dibaca ‘al-in-SAAN al-KAA-mil’ — الإنسان الكامل Dibaca: al-Insan al-Kamil. Manusia yang akal, jiwa, akhlak, dan kesiapan rohaninya mencapai kesempurnaan manusiawi tertinggi. Dalam filsafat dan tasawuf Islam, Nabi adalah teladan tertinggi kedudukan ini. dipandang sebagai sebab tujuan dari penciptaan, dan ia adalah perantara tekwini bagi limpahan Allah dan rahmat-Nya atas alam ini. Seandainya alam kosong dari model yang paling sempurna lagi maksum ini, niscaya sirnalah tujuan dari keberlangsungan kosmos.
Sebagai ungkapan atas kandungan ini, disebutkan dalam riwayat:
“Seandainya bumi tetap tanpa imam, niscaya ia akan terbenam (bersama penghuninya).”
Argumen Qur’ani: Saksi Zaman
Ketegasan Al-Qur’an Al-Karim menegaskan kesertaan hujjah bagi seluruh manusia di setiap zaman, Allah Ta’ala berfirman:
“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya.” [Al-Isra: 71]
Dan Dia Subhanahu berfirman:
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan, dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” [Ar-Ra’d: 7]
Maka pemberi peringatan adalah Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).), dan pemberi petunjuk adalah imam maksum yang berkesinambungan pada setiap kaum dan masa hingga hari kiamat.
4. Problem Terbesar: Di Manakah Hujjah yang Maksum Hari Ini?
Sampai tahap ini, peneliti yang cerdas boleh jadi menerima kewajiban wujud imam dan kepemimpinan yang maksum secara rasional, tetapi ia berbenturan dengan realitas yang dijalani untuk mengajukan pertanyaan terpenting lagi terpelik: jika wujud imam maksum adalah keniscayaan pasti untuk menjaga agama dan memberi petunjuk kepada manusia, maka di manakah imam maksum dari Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) ini di zaman kita ini?
Jawaban atas pertanyaan ini tidak berangkat dari emosi, melainkan menuntut argumentasi yang sistematis lagi berpijak pada tahapan ilmiah dan historis yang ketat, dan ia ditujukan secara eksklusif bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).); sebab perdebatan tentang Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dengan orang tak beragama atau materialis adalah sebelum waktunya dan keluar dari susunan peringkat dalil.
Tahap Pertama: Adakah Penunjukan dan Nas dari Rasul (saw)?
Langkah pertama dalam metode ini adalah mengkaji nas-nas pengukuhan Islam. Kesimpulan yang mapan di kalangan para peneliti adalah ya; Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) telah menaskan dalam berbagai tempat yang mutawatir tentang identitas para imam dan penutup mereka.
Kaum muslimin dengan seluruh mazhab dan golongan mereka bersepakat bahwa Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) memberi kabar gembira akan kemunculan seorang pembaharu dunia dari itrahnya di akhir zaman, dan mereka menuturkan ratusan dalil dan riwayat sahih dalam hal itu. Dari sumber-sumber mazhab para khalifah, para penyusun kitab sahih dan sunan meriwayatkan nas-nas, di antaranya sabdanya (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).):
“Seandainya tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari, niscaya Allah membangkitkan seorang lelaki dari Ahlul Baitku yang namanya sesuai dengan namaku, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kesetaraan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman dan kelaliman.”
Dan disebutkan dalam hadis Ummu Salamah (28 SH–62 H / 596–681 M):
“Al-Mahdi dari itrahku, dari keturunan Fatimah.”
Dari sumber-sumber mazhab Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), berlimpah kabar mutawatir dari Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) dan para imam (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dengan penentuan identitasnya secara rinci; ia adalah imam kedua belas, Al-Hujjah bin Al-Hasan Al-Askari (Imam al-Mahdi (AS)Imam al-Mahdi (AS) — dibaca ‘al-MAH-dee’ — المهدي (ع) Imam al-Mahdi (AS): Imam kedua belas dan terakhir dalam tradisi Syiah, diyakini berada dalam okultasi dan dinantikan sebagai pemimpin yang akan menegakkan keadilan di seluruh bumi.), yang tersembunyi dari pandangan lagi tersimpan untuk hari yang dijanjikan.
Tahap Kedua: Pengantar bagi Persoalan Wujud Aktual
Karena telah terbukti dengan dalil nabawi yang pasti dan rasional yang terdahulu akan keniscayaan wujud Al-Mahdi, muncullah pertanyaan sentral: di manakah imam ini sekarang di masa kita ini? Di sini kaum muslimin terbagi menjadi dua pandangan asasi dalam mengenali wujud ini:
- Pandangan mazhab Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.): Syiah berpendapat bahwa Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) benar-benar telah lahir di Samarra pada tahun 255 H / 869 M, dan ia adalah putra Imam Hasan Al-Askari (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), Allah memanjangkan usianya yang mulia, dan ia hidup di antara manusia dengan wujudnya yang hidup mengemban sifat imamah aktual, tetapi terhijab dari segi identitas dalam kegaiban, hingga tersedianya keadaan bagi kebangkitannya yang menyeluruh.
- Pandangan mazhab para khalifah: Mayoritas ulama Ahlusunah berpendapat bahwa Al-Mahdi yang dijanjikan akan lahir di akhir zaman menjelang hari kiamat, dan belum lahir, tetapi ketika ia lahir ia akan mengemban tugas perbaikan yang agung itu.
5. Batas Perangkat dan Teori Pengetahuan: Mengapa Akal Murni Tak Berhak Memutuskan Persoalan Panjang Usia?
Sebelum mengadili pandangan Syiah dan mengurai syubhat usia dan kegaiban, harus diletakkan batas pemisah yang mencegah kerancuan epistemologis ketika sebagian orang mencoba menjadikan persoalan panjang usia manusia lebih dari dua belas abad sebagai perkara logis dan rasional.
Akal Argumentatif dan Batas-Batasnya
Dalam teori pengetahuan, akal adalah perangkat pengenalan hal-hal universal dan kaidah-kaidah niscaya, seperti mustahilnya berkumpul dua hal yang bertentangan. Akal di sini tidak memiliki perangkat logis internal apa pun yang menjadikannya dapat memutuskan pendeknya usia manusia atau panjangnya; sebab usia adalah materi yang tunduk pada realitas, sejarah, dan kemampuan tekwini, dan bukan perkara logis yang abstrak.
Ilusi Kemustahilan Rasional
Menyifati panjang usia sebagai mustahil rasional adalah kebodohan peristilahan; sebab kemustahilan di sini adalah kemustahilan kebiasaan yang empiris, yakni apa yang tak biasa dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari mereka, bukan kemustahilan rasional yang tipikal. Akal tidak melihat penghalang logis apa pun bahwa seorang manusia hidup ribuan tahun jika tersedia baginya sebab-sebab pemeliharaan tekwini.
Karena itu, tidak benar mengubah tema ini menjadi pertempuran logis, sebab persoalan ini secara spesialisasi keluar dari lingkaran keputusan rasional langsung.
6. Kerapuhan Pembatasan Argumentasi pada Al-Qur’an Semata
Ketika kita masuk ke ruang riwayat, kita dapati sekelompok orang yang mencoba membatasi dalil pada Al-Qur’an Al-Karim dan menuntut ayat tegas yang menaskan Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dengan namanya, terisolasi dari sunah yang mulia. Pandangan ini merupakan pembatalan atas struktur pengetahuan Islam.
Al-Qur’an Mengukuhkan dan Hadis Merinci
Al-Qur’an Al-Karim turun sebagai penjelasan segala sesuatu dengan kaidah-kaidah universal dan garis besar; ia telah mengukuhkan konsep imamah dan menjadikannya perjanjian ilahi yang berkesinambungan yang tak menjangkau orang-orang zalim, serta mengukuhkan keniscayaan penggantian. Allah Subhanahu telah menjadikan fungsi Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) sebagai penjelas dan perinci hal-hal global Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Kami turunkan Az-Zikr (Al-Qur’an) kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” [An-Nahl: 44]
Sebagaimana Al-Qur’an menyebutkan salat secara global, dan hadis merinci jumlah rakaatnya serta waktunya, demikian pula Al-Qur’an mengukuhkan imamah dan keniscayaan kemenangan agama, lalu datang hadis nabawi yang mulia untuk merinci identitas para imam dan menentukan penutup mereka dengan nama, sifat, dan kegaiban. Maka tidak mungkin bersandar pada Al-Qur’an semata, dan hadis yang mulia adalah bagian riwayat yang menyertai Kitab dengan keterkaitan wujud.
7. Isyarat-Isyarat Qur’ani Pendahuluan: Sunah Panjang Usia dalam Nas Suci
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan persoalan panjang usia dalam Al-Qur’an secara serampangan, melainkan mengemukakan bukti-bukti dan kisah-kisah historis yang terdokumentasi dengan wahyu untuk menjadi pengantar epistemologis dan akidah bagi kaum mukmin, agar mereka tidak menganggap besar atau menganggap jauh bertahannya Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) tetap hidup sepanjang abad-abad ini dengan penjagaan dan pemeliharaan-Nya.
Usia Nabi Nuh (as)
Nas Al-Qur’an yang tegas mematahkan lingkaran usia yang biasa bagi manusia dalam konteks penyampaian:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” [Al-Ankabut: 14]
Ini adalah nas pasti atas kemungkinan terentangnya usia manusia hingga berabad-abad karena hikmah ilahi.
Penjagaan Nabi Isa (as)
Umumnya kaum muslimin beriman dengan nas Al-Qur’an bahwa Nabi Isa (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) tidak mati dan tidak dibunuh, melainkan diangkat dalam keadaan hidup dalam kegaiban ilahi:
“Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-Nya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [An-Nisa: 158]
Kisah Ashabul Kahfi
Allah menonaktifkan hukum-hukum waktu dan penguraian biologis bagi jasad mereka sementara mereka tidur selama berabad-abad tanpa makan atau minum:
“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.” [Al-Kahf: 25]
Kisah Nabi yang Dimatikan Seratus Tahun
Allah Ta’ala berfirman:
“Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali)… Maka lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah.” [Al-Baqarah: 259]
Ini menjelaskan bahwa waktu adalah makhluk yang dikuasai kemampuan ilahi yang mutlak.
Isyarat-isyarat Qur’ani ini membuktikan bagi orang yang beriman pada Kitab bahwa panjang usia untuk penjagaan hujjah adalah sunah ilahi yang berlaku lagi historis, yang berulang untuk menjaga para nabi dan orang-orang saleh, dan berlaku pada penutup para washi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) demi tujuan mewujudkan janji kosmik yang teragung.
8. Mengurai Teka-Teki Kegaiban dan Ketiadaan Campur Tangan Dini
Kegaiban ilahi bergerak sesuai jalur yang bijaksana yang terintegrasi dalam dimensi-dimensi yang beragam.
Tingkatan Kelaliman dan Kesempurnaan Hujjah
Ungkapan nabawi yang cermat menyatakan:
“Sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman dan kelaliman.”
Kelaliman itu bertingkat; dan hikmah ilahi meniscayakan agar kegaiban tidak campur tangan secara menentukan kecuali ketika umat manusia sampai ke puncak kesulitannya, dan seluruh ideologi manusia menghabiskan tesis-tesisnya, serta membuktikan ketidakmampuan totalnya mewujudkan keadilan. Ketika itulah kematangan pemikiran umat manusia menjadi sempurna untuk menerima alternatif ilahi.
Kesiapan Kejiwaan setelah Lingkaran Penyimpangan
Kegaiban adalah konsekuensi langsung dari penyimpangan pengukuhan yang menimpa umat setelah wafatnya Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).), di mana umat menyingkirkan penguasa-penguasanya yang sah dan menyiksa mereka. Karena Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) adalah pemilik proyek kosmik untuk mengubah wajah bumi, maka kemunculannya bersyarat pada penyiapan umat dan umat manusia serta tersedianya basis yang sadar. Ketika umat menyadari kemandulan pilihan-pilihan alternatif, dan mengakui untuk kembali kepada Islam Muhammadi yang murni, maka landasan nyata menjadi lengkap sehingga Allah mengizinkan kemunculan.
Dimensi Ubudiah dan Penyerahan Akal pada Nas Gaib
Di balik seluruh upaya rasional ini, tetap ada asas epistemologis; yaitu bahwa rincian waktu dan rahasia kegaiban adalah perkara tauqifiyah lagi ta’abbudiyah yang kita terima melalui wahyu yang jujur, karena firman Allah Ta’ala:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]
Dan Allah Subhanahu tidak terpaksa menyerahkan laporan perhitungan kepada manusia yang menjelaskan di dalamnya rincian hikmah tekwini-Nya.
9. Teka-Teki Manfaat: Apa Peran Imam di Masa Kegaiban?
Untuk mengurai problem manfaat dari imam yang terhijab, para ulama membagi peran Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) menjadi dimensi tekwini dan riwayat, bersandar pada perumpamaan nabawi yang masyhur tentangnya dengan matahari apabila diselubungi awan.
Peran Tekwini: Perantara Limpahan dan Keamanan Kosmik
Wujud imam yang maksum adalah kanal tekwini bagi limpahan Allah, rahmat-Nya atas alam ini, dan kelestariannya. Sebagai ungkapan atas kandungan ini, disebutkan dalam riwayat:
“Dengan kami, Allah menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.”
Peran Ruhani dan Epistemologis: Pengarahan yang Tersembunyi
Imam menjalankan hidayah batin yang mengalir dalam hati kaum mukmin, dan campur tangan secara tersembunyi untuk menjaga garis umum umat serta melindungi syariat dari kepunahan total. Disebutkan dalam suratnya kepada Syaikh Al-Mufid (336–413 H / 948–1022 M):
“Sesungguhnya kami tidak mengabaikan pemeliharaan kalian, dan tidak melupakan zikir kalian, dan seandainya bukan karena itu niscaya kesulitan menimpa kalian dan musuh membinasakan kalian.”
Peran Kejiwaan dan Sosial: Sentralitas Harapan
Keimanan akan wujud pemimpin yang hidup mencegah masyarakat dari terjatuh ke perangkap keputusasaan dan frustrasi, dan mengubah penantian menjadi gerak positif serta kesiapsiagaan berkesinambungan hingga umat mencapai usia kedewasaan dan persiapan nyata bagi negara keadilan.
10. Pengadilan atas Pandangan Sunni: Cacat Struktural dalam Hipotesis Pembaharu Masa Depan
Ketika pembacaan Sunni ditundukkan pada pengadilan metodologis, menonjol problematika struktural yang menampakkan ketidakrealistisannya dan kontradiksinya dengan kaidah-kaidah pengukuhan kenabian dan imamah.
Problem Kesadaran Diri dan Pembuktian
Pandangan Sunni mengandaikan bahwa seorang lelaki biasa mencapai usia empat puluh, lalu Allah memperbaikinya dalam satu malam sehingga ia mengetahui bahwa dirinya adalah Al-Mahdi. Maka bagaimana ia akan mengenali dirinya sendiri? Jika dikatakan dengan wahyu, maka wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).). Dan jika dikatakan dengan mimpi dan penyingkapan, maka itu adalah dalil-dalil zanni (dugaan) yang tak dibangun di atasnya taklif setingkat kepemimpinan dunia.
Muncul pula problem membuktikan itu kepada umat: bagaimana umat akan membedakan antara dia dan ribuan pengklaim dusta yang mengemban nama yang sama atau mengaku maqam yang sama?
Problem Rujukan Keilmuan dan Epistemologis
Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) bukanlah penguasa politik biasa, melainkan pembaharu yang memutuskan akidah-akidah yang diperselisihkan kaum muslimin berabad-abad. Maka dari mana ia akan mempelajari ilmu yang mutlak ini tanpa kesalahan atau ketergelinciran? Ia, menurut pandangan ini, tidak mewarisinya secara turun-temurun dari para imam yang suci (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan tidak menerimanya dengan wahyu karena terputusnya wahyu.
Kontradiksi Struktural antara Pelimpahan dan Kemaksuman
Pembacaan Sunni mendapati dirinya di hadapan dua pilihan: entah mengakui bahwa Allah akan menganugerahinya ilmu ladunni dan pengarahan gaib yang mencegahnya dari kesalahan, dengan demikian ia mengakui baginya kemaksuman dan maqam-maqam yang tinggi, sehingga mendekati pandangan Syiah. Atau bersikeras bahwa ia manusia biasa yang berijtihad, keliru dan benar; di sini gugurlah argumen rasional, sebab bagaimana seorang yang tak maksum yang bersandar pada perangkat manusia yang terbatas dapat mengakhiri penyimpangan historis serta mewujudkan keadilan yang mutlak lagi kekal bagi umat manusia?
Ini adalah pelanggaran nyata terhadap argumen kelembutan dan hikmah ilahi.
11. Kesatuan Jembatan Epistemologis yang Konvergen: Riwayat sebagai Asas Memahami Agama dan Sejarah
Persoalan ini tidak khusus bagi satu golongan tanpa yang lain, melainkan sistem Islam dan historis secara keseluruhan di zaman ini, setelah berlalu empat belas abad, sampai kepada kita melalui jembatan epistemologis yang sama: riwayat yang jujur dan mutawatir yang bersambung yang terintegrasi dengan akal.
Kaum muslimin seluruhnya tidak beriman pada wujud historis Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) dan itrahnya (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan tidak pula pada rincian nama serta sirah mereka, melalui penyaksian indrawi langsung, melainkan mereka mengimaninya karena ia dinukilkan kepada mereka melalui tawatur yang pasti dan nas-nas yang bersambung abad demi abad.
Ketika kita menerapkan metode ilmiah yang lurus, kita dapati dua tahap yang saling menyempurnakan:
- Menerima hakikat dengan riwayat: Kita mengambil nas dan kabar yang diriwayatkan yang mutawatir kabarnya.
- Menghakimi riwayat dengan akal: Setelah nas sampai, datanglah peran akal untuk mengadili dan memeriksanya; ia menilik apakah yang dinukilkan ini selaras dengan hal-hal universal tauhid, keadilan ilahi, dan hikmah-Nya?
Maka pengaju keberatan yang menerima pokok agama, Al-Qur’an, dan sirah Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) melalui riwayat dan tawatur, lalu menolak persoalan Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dengan alasan bahwa ia dinukilkan dan kita tidak melihatnya secara indrawi sekarang, terjatuh dalam kontradiksi metodologis yang mencolok; sebab perangkat epistemologis yang menyampaikan kepadanya pokok syariat dan ia terima, adalah persis perangkat yang menyampaikan kepada kita penutup para washi-Nya dan hujjah-Nya yang gaib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
Ta’abbud dengan riwayat yang jujur di sini bukanlah pembatalan akal, melainkan kepatuhan penuh pada perintah akal yang menuntun kita ke pintu wahyu yang maksum dan memerintahkan kita untuk membenarkannya dan berpegang pada nas-nasnya.
Kesimpulan Akhir
Pembacaan yang cermat atas sejarah dan geografi akidah menyingkap hakikat yang terang: peta dunia Islam saat ini bukanlah dalil atas kebenaran satu manhaj melawan yang lain, melainkan cermin bagi mazhab kekuasaan yang dipaksakan lintas sejarah dengan kekuatan senjata dan dukungan politik sejak saat umat menyimpang di Saqifah; di mana umat menyingkirkan penguasa-penguasanya yang sah dan menyerahkan mereka pada pembunuhan dan penyiksaan turun-temurun.
Untuk menjaga hujjah yang kekal dari rangkaian berdarah dan pemalsuan akidah ini, dan untuk melindungi penutup para washi dari pelenyapan yang pasti, hikmah ilahi dan kelembutan Tuhan meniscayakan kegaiban Imam Muhammad bin Al-Hasan Al-Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.); agar ia terjaga dalam kegaiban hingga umat manusia dan inti mukmin darinya sampai ke tahap kematangan pemikiran, kedewasaan akidah, dan pengembanan tanggung jawab setelah ketidakmampuan dan kegagalan seluruh sistem buatan yang menyimpang.
Keimanan pada Imam Mahdi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dan kegaibannya bukanlah keluar dari akal, melainkan puncak keselarasan antara akal argumentatif dan riwayat mutawatir yang jujur; ia adalah simpanan ilahi yang dijanjikan yang akan keluar untuk meluruskan penyimpangan historis yang panjang, meruntuhkan tanda-tanda agama kekuasaan, dan mengembalikan umat kepada mata air Islam Muhammadi yang murni, sehingga ia memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman, kelaliman, dan penyimpangan sejak hari pertama kepergian Al-Musthafa (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).).
Keimanan pada Imam Mahdi (aj) bukanlah keluar dari akal, melainkan puncak keselarasan antara akal argumentatif dan riwayat mutawatir yang jujur.