Penjagaan
Ahlulbait (as): Dari Pemilihan Ilahi menuju Rujukan Risalah
Ahlulbait (as) dalam istilah Qur'ani dan nabawi adalah Ahlul Kisa' dan para maksum dari keturunan Nabi (saw), yang Allah jadikan sebagai rujukan yang suci untuk menjaga agama dan menjelaskan Al-Qur'an setelah Rasulullah.
Konsep “Ahlulbait” dalam pemikiran Islam merupakan titik tumpu sentral untuk memahami garis perpanjangan risalah setelah Nabi penutup (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).). Mengetahui siapa Ahlulbait, menetapkan maqam-maqam mereka, dan membantah syubhat seputar mereka termasuk keniscayaan epistemologis bagi setiap pencari kebenaran Qur’ani dan riwayat.
1. Definisi Ahlulbait (as) dan Bantahan atas Syubhat Tercakupnya Kerabat
Sebagian pandangan pemikiran berupaya memperluas konsep “Ahlulbait” agar mencakup para istri Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) atau seluruh keluarga dan kerabatnya, bersandar pada makna kebahasaan umum “Ahlul Bait”, yakni penghuni rumah.
Jawaban Ilmiah atas Syubhat
Sesungguhnya suatu lafaz apabila turun dalam Al-Qur’an dan bersanding dengan pujian khusus atau maqam tasyri’ seperti penyucian, ia berubah dari makna kebahasaannya yang umum menuju makna istilahi-syar’i yang tertentukan dengan penjelasan Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).). Ada dalil-dalil pasti atas keluarnya para istri dari konsep yang lebih khusus ini:
- Dalil peralihan (konteks dan kata ganti): Konteks ayat sebelum dan sesudah ayat penyucian datang dengan kata ganti feminin untuk menyeru para istri:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.”
“Kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain.”
Adapun ketika sampai pada ayat penyucian, seruan berubah menjadi jamak maskulin (jamak mudzakkar salim):
“…dari kamu (kum).”
“…dan menyucikan kamu (kum) sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzab: 33]
Ini membuktikan masuknya kaum lelaki dalam seruan, dan berubahnya sasaran seruan secara keseluruhan.
- Dalil pembatasan aktual (Ahlul Kisa’): Kitab-kitab sahih, seperti Shahih Muslim dan al-Mustadrak, meriwayatkan bahwa Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) menyelimuti Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dengan sehelai kain seraya bersabda:
“Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku.”
Dan ketika istrinya, Ummu Salamah (28 SH–62 H / 596–681 M), meminta masuk ke bawah kain seraya berkata, “Bukankah aku termasuk Ahlulbait?” Nabi mencegahnya dengan santun seraya bersabda:
“Sesungguhnya engkau di atas kebaikan, dan engkau termasuk istri-istri Nabi.”
Dan dalam riwayat lain:
“Tetaplah di tempatmu, dan engkau di atas kebaikan.”
Seandainya maqam ini bersifat kekeluargaan atau mencakup para istri, niscaya Nabi tidak mencegahnya dan mengalihkannya kepada pujian lain.
Berdasarkan ini, Ahlulbait dalam makna yang lebih khusus adalah golongan pilihan yang suci lagi wajib ditaati yang dinaskan Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) dan disandingkannya dengan Al-Qur’an.
2. Empat Belas Maksum (Cahaya-Cahaya Kesucian Agung)
Tingkatan ini mencakup empat belas maksum yang tetap kesucian mutlak mereka dari setiap kotoran, kesalahan, dan lupa, yaitu Rasul, Az-Zahra, dan dua belas imam.
1. Rasul dan Az-Zahra (as)
-
Rasul termulia Muhammad bin Abdillah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) (53 SH–11 H / 570–632 M): Penutup para nabi dan rasul, serta ayah Fatimah Az-Zahra (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Ayahnya: Abdullah bin Abdul Muthalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Aminah binti Wahb (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Ditetapkan dalam riwayat-riwayat Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) bahwa beliau gugur syahid akibat racun yang dibubuhkan kepadanya, dan dimakamkan di Madinah Al-Munawwarah.
-
Sayidah Fatimah Az-Zahra (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (8 SH–11 H / 614–632 M): Belahan jiwa Rasul, putri Muhammad bin Abdillah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).), dan istri Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Ayahnya: Rasulullah Muhammad bin Abdillah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).), dan ibunya: Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Beliau (Sayyidah Fatimah (AS)Sayyidah Fatimah (AS) — dibaca ‘FAA-ti-ma’ — فاطمة (ع) Sayyidah Fatimah al-Zahra (AS): putri Nabi Muhammad (SAW), istri Imam Ali (AS), dan ibu Imam Hasan serta Imam Husayn (AS). Ia termasuk Ahl al-Bayt.) gugur teraniaya sebagai syahidah akibat luka-lukanya dari peristiwa serangan dan kejadian menyakitkan setelah wafatnya Rasul (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) beberapa bulan saja, wafat di Madinah Al-Munawwarah dan dimakamkan secara rahasia sehingga letak makamnya tidak diketahui secara pasti.
2. Dua Belas Imam (as)
Mereka adalah para washi yang dinaskan Rasul (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) dalam riwayat-riwayat mutawatir, kami sajikan di sini menurut urutan dan baris pengenalannya:
-
Imam Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (23 SH–40 H / 599–661 M): Amirul Mukminin, washi Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) dan pintunya. Ayahnya: Abu Thalib bin Abdul Muthalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (sekitar 85 SH–3 SH / sekitar 539–619 M), dan ibunya: Fatimah binti Asad (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Gugur terbunuh oleh pedang di tangan Abdurrahman bin Muljam (w. 40 H / 661 M) di mihrabnya, dan dimakamkan di Najaf Al-Asyraf.
-
Imam Hasan bin Ali Al-Mujtaba (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (3–50 H / 625–670 M): Cucu tertua dan orang keempat dari Ahlul Kisa’. Ayahnya: Imam Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Fatimah Az-Zahra (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Gugur terbunuh oleh racun yang dibubuhkan kepadanya, dan dimakamkan di Baqi’, Madinah Al-Munawwarah.
-
Imam Husain bin Ali Asy-Syahid (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (4–61 H / 626–680 M): Cucu termuda dan orang kelima dari Ahlul Kisa’. Ayahnya: Imam Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Fatimah Az-Zahra (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Gugur terbunuh dengan pemenggalan kepalanya yang mulia dalam peristiwa Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, dan dimakamkan di Karbala Al-Muqaddasah.
-
Imam Ali bin Al-Husain As-Sajjad (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (38–95 H / 659–713 M): Zainul Abidin. Ayahnya: Imam Husain bin Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Syah Zanan (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (Ghazalah). Gugur terbunuh oleh racun atas upaya Al-Walid bin Abdul Malik (50–96 H / 668–715 M), dan dimakamkan di Baqi’, Madinah Al-Munawwarah.
-
Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (57–114 H / 676–733 M): Pembelah ilmu para nabi. Ayahnya: Imam Ali bin Al-Husain As-Sajjad (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Fatimah binti Al-Hasan (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (Ummu Abdillah). Gugur terbunuh oleh racun yang dibubuhkan Hisyam bin Abdul Malik (72–125 H / 691–743 M), dan dimakamkan di Baqi’, Madinah Al-Munawwarah.
-
Imam Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (83–148 H / 702–765 M): Pemuka mazhab dan pembaharu syariat. Ayahnya: Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Ummu Farwah binti Al-Qasim (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Gugur terbunuh oleh racun atas perintah Al-Manshur Ad-Dawaniqi (95–158 H / 714–775 M), dan dimakamkan di Baqi’, Madinah Al-Munawwarah.
-
Imam Musa bin Ja’far Al-Kazhim (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (128–183 H / 745–799 M): Rahib keluarga Muhammad dan sahabat sujud yang panjang. Ayahnya: Imam Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Hamidah Al-Mushaffah Al-Maghribiyah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Gugur terbunuh oleh racun di dalam penjara As-Sindi bin Syahik atas perintah Harun Ar-Rasyid (149–193 H / 766–809 M), dan dimakamkan di Kazhimiyah, Baghdad.
-
Imam Ali bin Musa Ar-Ridha (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (148–203 H / 765–818 M): Perantau Thus dan penjamin surga. Ayahnya: Imam Musa bin Ja’far Al-Kazhim (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Najmah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (Tuktam). Gugur terbunuh oleh racun yang dibubuhkan pada anggur dan delima atas perintah Khalifah Abbasiyah Al-Ma’mun (170–218 H / 786–833 M), dan dimakamkan di Masyhad, Thus.
-
Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (195–220 H / 811–835 M): Pintu segala hajat dan imam termuda usianya saat imamah. Ayahnya: Imam Ali bin Musa Ar-Ridha (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Sabikah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (Al-Khaizuran). Gugur terbunuh oleh racun yang dibubuhkan istrinya, Ummul Fadhl, atas dorongan Al-Mu’tashim Al-Abbasi (179–227 H / 796–842 M), dan dimakamkan di Kazhimiyah, Baghdad.
-
Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (212–254 H / 827–868 M): Pemilik kewibawaan, ketakwaan, dan kemurnian. Ayahnya: Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Samanah Al-Maghribiyah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Gugur terbunuh oleh racun atas perintah Al-Mu’tazz Al-Abbasi (232–255 H / 847–869 M), dan dimakamkan di Samarra.
-
Imam Hasan bin Ali Al-Askari (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (232–260 H / 846–874 M): Ayah penyelamat umat manusia. Ayahnya: Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Hadits (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (Salil). Gugur terbunuh oleh racun yang dibubuhkan Al-Mu’tamid Al-Abbasi (229–279 H / 844–892 M), dan dimakamkan di Samarra.
-
Imam Muhammad bin Al-Hasan Al-Mahdi (semoga Allah menyegerakan kelapangannya) (255 H / 869 M–hidup dalam kegaiban): Al-Qa’im yang dinanti dan Hujjah penuntut balas para nabi. Ayahnya: Imam Hasan bin Ali Al-Askari (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan ibunya: Sayidah Narjis (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Dialah (Imam al-Mahdi (AS)Imam al-Mahdi (AS) — dibaca ‘al-MAH-dee’ — المهدي (ع) Imam al-Mahdi (AS): Imam kedua belas dan terakhir dalam tradisi Syiah, diyakini berada dalam okultasi dan dinantikan sebagai pemimpin yang akan menegakkan keadilan di seluruh bumi.) imam yang hidup lagi dinanti, yang digaibkan dengan perintah Allah untuk memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman dan kelaliman.
3. Tingkatan dan Struktur Ahlulbait (Perbedaan antara Kemaksuman Agung dan yang Diusahakan)
Untuk memahami sisa pohon nabawi yang diberkahi, harus diketahui bahwa “Ahlulbait” mencakup lingkaran dan tingkatan yang beragam.
1. Kemaksuman Agung vs. Kemaksuman Kecil
-
Kemaksuman agung (zati): Ini adalah maqam empat belas maksum secara eksklusif, yaitu dukungan ilahi dan penyucian tekwini yang mencegah terjadinya kesalahan dan dosa secara sengaja maupun tak sengaja sejak lahir hingga wafat, serta menjadikan pemiliknya hujjah ilahi yang mutlak.
-
Kemaksuman kecil (diusahakan): Ini adalah derajat tinggi ketakwaan dan kewaraan yang dicapai manusia dengan perjuangan ruhaninya dan ketaatan mutlaknya kepada sang maksum, sehingga terbentuk padanya malakah (kondisi jiwa mapan) yang mencegahnya dari maksiat, meski masih mungkin baginya lupa atau tak ada nas atas wilayah ilahi baginya.
-
Ahli maqam-maqam tinggi (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.): Termasuk dalam derajat ini tokoh-tokoh mulia seperti Sayidah Zainab Al-Kubra (5–62 H / 626–682 M), Abul Fadhl Al-Abbas (26–61 H / 647–680 M), dan Ali Al-Akbar (sekitar 33–61 H / sekitar 653–680 M) (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), serta sisa putra-putra para imam yang mulia. Mereka termasuk Ahlulbait dalam pengertian silsilah dan keteladanan, maqam mereka di sisi Allah sangat agung, dan kita menyeru mereka dengan “‘alaihimus salam” sebagai penghormatan atas jihad dan ilmu mereka — seperti ilmu ladunni yang diusahakan pada Sayidah Zainab — namun mereka bukan bagian dari empat belas hujjah.
2. Para Sayid (Keturunan Nasab)
Mereka adalah cucu-cucu Ahlulbait dan keturunan mereka yang terus terentang lintas zaman dari keturunan Imam Ali dan Sayidah Fatimah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Kepada mereka kita curahkan dalam syariat segala pemuliaan, kecintaan, dan penghormatan sebagai penghargaan bagi Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) dan menaati wasiatnya untuk menjaga keturunannya. Namun mereka manusia seperti manusia lainnya dalam taklif dan tanggung jawab, tidak memiliki kemaksuman maupun wilayah tasyri’, bahkan dosa mereka berlipat dan pahala mereka berlipat karena kedudukan nasab dan kedekatan kemuliaan mereka.
4. Maqam dan Keutamaan Ahlulbait (as) dalam Sistem Argumentatif
Dalil-dalil keutamaan Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) tidak berhenti pada satu nas, melainkan berbagai argumen saling menyempurnakan membentuk sistem yang kokoh yang membuktikan maqam khusus mereka dalam hidayah, keharusan diikuti, rujukan agama, dan keutamaan atas seluruh makhluk.
1. Dalil-Dalil dari Al-Qur’an
- Ayat Penyucian (argumen kesucian mutlak):
“Sesungguhnya Allah hanya bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzab: 33]
Perangkat pembatasan “innama” menunjukkan kehendak tekwini ilahi yang membatasi penghilangan “ar-rijs”, yakni dosa, kesalahan, dan lupa, kepada orang-orang saleh ini, dan itulah argumen kemaksuman.
- Ayat Mawaddah (menjadikan kecintaan kepada mereka sebagai upah risalah):
“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’” [Asy-Syura: 23]
Ayat ini tidak menyajikan kecintaan kepada kerabat sebagai emosi pilihan, melainkan mengaitkannya dengan upah risalah. Diketahui bahwa Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) tidak meminta upah pribadi untuk dirinya karena upahnya di sisi Allah, maka itu menunjukkan bahwa kasih sayang kepada kerabat adalah manfaat yang kembali kepada umat itu sendiri; sebab mencintai mereka adalah jalan menjaga agama dan berpaut dengan sumber-sumber hidayah. Seandainya kasih sayang itu sekadar cinta kekeluargaan, niscaya tak dijadikan upah risalah penutup, melainkan yang dimaksud adalah kasih sayang yang menuntun kepada pengikutan dan kepasrahan.
- Ayat Wilayah (dalil wilayah keagamaan yang memimpin):
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah).” [Al-Ma’idah: 55]
Ayat ini membatasi wilayah dalam satu rangkaian yang terentang dari wilayah Allah dan Rasul-Nya hingga mukmin yang bersedekah dalam keadaan rukuk, dan yang dimaksud di sini adalah wilayah keagamaan yang memimpin, bukan sekadar kecintaan umum. Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) ketika beliau bersedekah dengan cincinnya dalam keadaan rukuk.
- Ayat Mubahalah (dalil keutamaan dan kesetaraan ruhani):
“Maka katakanlah (Muhammad), ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu.’” [Ali Imran: 61]
Ayat ini menjadikan Imam Ali sebagai “diri” Rasul termulia, dan membatasi anak-anak pada Hasan dan Husain, serta wanita pada Fatimah, yang merupakan petunjuk pasti atas keutamaan sempurna; sebab seandainya ada dalam umat yang lebih utama dari mereka, niscaya Nabi bermubahalah dengan mereka.
- Ayat Salawat atas Nabi dan Keluarganya (persandingan dalam ibadah harian):
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab: 56]
Dan Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) telah menjelaskan tata cara berselawat kepadanya, yaitu:
“Ya Allah, limpahkanlah selawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Persandingan yang berulang dalam salat harian ini adalah dalil atas kekhususan maqam mereka, dan bahwa “keluarga” di sini adalah sebutan pemilihan dan perpanjangan hidayah yang diperintahkan untuk diagungkan secara khusus.
- Ayat Memberi Makan (maqam keikhlasan):
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata,) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah.’” [Al-Insan: 8-9]
Ini adalah dokumentasi Qur’ani atas keikhlasan mutlak dan ketakwaan mereka yang melampaui batas amal manusia biasa.
- Ayat Ulil Amri:
“Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” [An-Nisa: 59]
Ayat ini menunjukkan kewajiban ketaatan mutlak yang mengikuti ketaatan kepada para maksum.
2. Dalil-Dalil dari Riwayat yang Mustafidhah dan Mutawatir
- Hadis Tsaqalain (rujukan yang maksum): Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) bersabda:
“Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian dua peninggalan berat: Kitab Allah dan itrahku Ahlul Baitku. Selama kalian berpegang pada keduanya, kalian tak akan tersesat sepeninggalku selamanya, dan keduanya tak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga (haudh).”
Ini adalah nas yang pasti atas perintah mengikuti dan berpegang pada keduanya bersama-sama sebagai jaminan mutlak dari kesesatan.
- Hadis Ghadir (pengumuman terbuka atas wilayah): Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) bersabda di Ghadir Khum setelah Haji Wada’ di hadapan khalayak:
“Barangsiapa yang aku maulanya, maka Ali ini adalah maulanya.”
Pengumuman ini terkait dengan sabdanya:
“Bukankah aku lebih utama atas kaum mukmin daripada diri mereka sendiri?”
Maka makna wilayah di sini menjadi perpanjangan dari wilayah tasyri’ dan kepemimpinan Nabi, bukan sekadar persahabatan biasa.
- Hadis Bahtera (pembatasan keselamatan): Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di tengah kalian bagaikan bahtera Nuh, siapa yang menaikinya selamat dan siapa yang tertinggal darinya tenggelam.”
Ini adalah argumen yang jelas atas pembatasan keamanan ruhani pada gerak dan hidayah mereka.
- Hadis Manzilah (kedekatan maqam): Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) bersabda kepada Imam Ali:
“Engkau bagiku laksana kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”
Maka apabila kenabian dikecualikan, tinggallah petunjuk-petunjuk pembantuan, penolongan, kekhalifahan, dan rujukan umum dalam pokok maqam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
- Keutamaan Fatimah Az-Zahra (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (tolok ukur rida dan murka): Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) bersabda:
“Fatimah adalah belahan jiwaku, siapa yang membuatnya murka berarti membuatku murka.”
Tidak mungkin mengaitkan murka seseorang dengan murka Nabi dan sikapnya secara mutlak kecuali jika sang maksum berada di puncak tertinggi kesucian dan keistikamahan, sedemikian sehingga murkanya tak mungkin mengandung hawa nafsu atau kesalahan.
- Keutamaan Hasan dan Husain (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) (imamah hidayah): Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) bersabda:
“Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda ahli surga.”
Beliau juga bersabda:
“Hasan dan Husain adalah dua imam, baik ketika bangkit maupun ketika duduk (berdamai).”
Kedua nas ini menetapkan imamah taklifi keduanya dalam menjaga agama, baik dengan perdamaian maupun dengan kesyahidan.
- Hadis Kota Ilmu:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya.”
Ini adalah nas yang tegas atas keutamaan keilmuan dan keunggulan pengetahuan.
3. Argumen-Argumen Rasional dan Historis
-
Argumen rasional dari persandingan itrah dengan Al-Qur’an: Hadis Tsaqalain menegakkan argumen rasional atas kemaksuman. Al-Qur’an adalah kitab maksum yang tak didatangi kebatilan, dan karena itrah bersanding dengannya serta tak akan berpisah darinya selamanya, maka seandainya boleh terjadi kesalahan atau kesesatan pada mereka, niscaya Nabi memerintahkan berpegang pada pihak yang bisa jadi sesat, dan itu mustahil. Jadi, persandingan itrah dengan Al-Qur’an adalah dalil atas kesucian dan kemaksuman penjelasan mereka.
-
Argumen rasional dari keniscayaan penjagaan setelah penutupan kenabian: Karena Muhammad (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) adalah penutup para nabi dan tak ada wahyu baru setelahnya, hikmah ilahi meniscayakan agar umat tidak ditinggalkan tanpa rujukan maksum yang menjaga agama dari penyimpangan dan takwil yang batil. Sebagaimana hikmah meniscayakan pengutusan Nabi untuk menjelaskan wahyu, ia meniscayakan adanya perpanjangan suci lagi maksum yang menjaga penjelasannya, dan itu adalah jabatan yang tak berpijak pada mayoritas melainkan pada nas, kemaksuman, dan ilmu.
-
Argumen dari realitas historis dan ilmiah: Ketika menelaah sirah Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), kita dapati mereka menjelma dalam ilmu, kewaraan, keteguhan, dan pengorbanan; Imam Ali adalah pintu ilmu, Imam Hasan mendahulukan kemaslahatan agama dalam perdamaiannya, Imam Husain mengorbankan dirinya untuk menolak penyimpangan, Al-Baqir dan Ash-Shadiq menyebarkan ilmu-ilmu syariat, dan sisa para imam menghadapi penjara dan racun tanpa kompromi, yang membuktikan bahwa pemilihan mereka adalah kenyataan praktis yang disaksikan oleh sirah mereka yang suci.
5. Bantahan atas Syubhat Maqam Rasial
Sebagian orang mengklaim bahwa pendahuluan Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) kembali pada logika “ras, gen, dan warisan kekeluargaan kesukuan”. Para peneliti umat telah membongkar syubhat ini melalui argumen-argumen kokoh yang menafikan corak rasial dari akarnya:
- Argumen pengecualian di dalam keturunan langsung: Seandainya maqam itu bersifat rasial, niscaya ia tetap bagi setiap pembawa gen; tetapi Al-Qur’an menunjukkan dengan jelas keluarnya sebagian individu dari keturunan para nabi karena ketidaksalehan mereka, seperti putra Nabi Nuh:
“Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik.” [Hud: 46]
- Model Qabil dan Habil: Keduanya adalah saudara sekandung dari sulbi Nabi Adam (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) secara langsung, dan mengemban darah serta pertumbuhan yang sama. Meski demikian, Allah menerima dari Habil karena ketakwaan dan keikhlasannya:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”
Sementara Qabil binasa karena kedengkian dan kezalimannya:
“…maka dia pun (jadi) membunuhnya, lalu dia menjadi salah seorang di antara orang-orang yang merugi.” [Al-Ma’idah: 30]
-
Model Yusuf dan saudara-saudaranya: Mereka semua putra Ya’qub dan dari satu ras, tetapi pemilihan, kenabian, dan kemaksuman ada pada Yusuf (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) tanpa saudara-saudaranya yang terjatuh pada kesalahan, kezaliman, dan kedengkian, yang menjelaskan bahwa tolok ukur langit adalah kelayakan jiwa, ruhani, dan ketakwaan zati.
-
Model Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) dan Abu Lahab (sekitar 79 SH–2 H / sekitar 549–624 M): Keduanya berasal dari sulbi dan rahim kesukuan Hasyimi yang sama, meski demikian Abu Lahab dilaknat dalam Al-Qur’an karena amalnya yang rusak, dan Salman Al-Farisi (w. 36 H / 656 M) didekatkan karena ketakwaannya, dan tentangnya dikatakan:
“Salman adalah bagian dari kami, Ahlulbait.”
Kesimpulan: Kekerabatan wadah yang suci dipilih Allah sebagai keadaan dan pertumbuhan bagi orang-orang terpilih, adapun sebab sempurna dan pengharus pendahuluan mereka adalah ilmu, kemaksuman, dan ketakwaan mutlak mereka yang membedakan mereka dari manusia lainnya.
Kesimpulan dan Pelengkap
Himpunan dalil-dalil ini membuktikan bahwa keutamaan Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) bukanlah keutamaan-keutamaan parsial yang tercerai-berai, melainkan bangunan yang utuh: Al-Qur’an menetapkan kesucian mereka, kasih sayang kepada mereka, wilayah mereka, dan kekhususan kedekatan mereka; Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) memerintahkan berpegang pada mereka, menyandingkan mereka dengan Al-Qur’an, mengumumkan wilayah Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan menjelaskan maqam Fatimah, Hasan, Husain, serta para imam sesudah mereka (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.); akal menghukumi keniscayaan adanya penjaga yang maksum; dan sejarah menyaksikan pengorbanan mereka yang unik serta sirah mereka yang bercahaya.
Berdasarkan itu, menjadi jelas bahwa keutamaan mereka bersumber dari nas-nas tanzil dan riwayat yang tegas, dan bahwa mengikuti Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) serta tunduk pada ucapan dan perbuatan mereka adalah perintah ilahi-tasyri’ langsung yang wajib dilaksanakan sebagaimana dijelaskan ayat Mawaddah:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’”
Pengikutan ini bukanlah keberpihakan emosional atau fanatisme nasab, melainkan pada hakikat dan intinya merupakan pengikutan kepada Allah dan Rasul; sebab ketaatan kepada mereka adalah perpanjangan dari ketaatan kepada Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) yang bersanding dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan kepasrahan mutlak kepada kehendak serta hidayah-Nya.
Ahlulbait (as) bukanlah sebutan keluarga yang umum, melainkan sebutan pemilihan, kesucian, dan rujukan risalah yang Nabi (saw) sandingkan dengan Al-Qur'an.