Perjalanan akal, iman dan kebenaran

Jalan pencarian dari A hingga Z

Peta jalan logik, langkah demi langkah, untuk memahami ajaran Islam dengan nalar, kejelasan dan tujuan.

Asal

Tauhid dalam al-Quran dan Sunnah Rasul (s.a.w.) serta Ahl al-Bayt (a.s.)

Ringkasnya

Al-Quran menyeru akal, deria, dan fitrah kepada tauhid, dan Ahl al-Bayt (a.s.) membentuk pendirian pertengahan antara tasybih dan ta'til.

Pengenalan

Selepas akal menggariskan kerangka penyucian bagi sifat-sifat wajib al-wujud, kini kita berpindah ke ruang ; untuk melihat bagaimana hakikat-hakikat rasional ini menampak dalam , dan bagaimana Rasul Yang Mulia () beserta () menjabarkannya. Pengetahuan riwayat yang datang dari mereka tidaklah membatalkan akal, melainkan menuntunnya supaya terbebas dari kekeringan istilah-istilah falsafah, sembari membawanya terbang menuju cakrawala pengetahuan yang sejati.


1. Bagaimana Al-Qur’an dan Ahlulbait (as) Membahas Tauhid?

tidak mengajukan persoalan sebagai persamaan yang kering, melainkan tampil dengan gaya mukjizat yang khas yang selaras dengan “teori pengetahuan” dan perangkat-perangkatnya yang beragam pada manusia. Sebab manusia tidak berada pada satu tingkat kesadaran dan analisis yang sama; kerana itu tuturan Al-Qur’an datang secara bertahap dan menyapa seluruh tingkatan pencerapan manusia melalui tiga perangkat pengetahuan:

1. Tuturan Rasional dan Demonstratif (bagi ahli falsafah dan penalaran)

Al-Qur’an menyapa golongan yang bertumpu pada “akal murni” sebagai perangkat pengetahuan utama, dan menyodorkan kepada mereka bukti-bukti logis yang setara dengan teori-teori falsafah terdalam:

Hujah saling menghalangi (tamanu`), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sekiranya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa.” [Al-Anbiya: 22]

Ini adalah penghujahan rasional murni yang berpijak pada keterkaitan logis; sebab adanya dua kekuatan mutlak yang mandiri niscaya menuntun kepada benturan, kerusakan, dan batalnya tatanan, yang selaras dengan hujah tamanu` dalam falsafah.

Hujah pemilahan menyeluruh (sabr wa taqsim), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu (asal-usul) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” [At-Tur: 35]

Di sini akal membatasi kemungkinan-kemungkinan dan menuntun pembaca melalui pembatalan andaian-andaian yang keliru untuk sampai pada kesimpulan yang pasti (adanya Sang Pencipta).

Rasul Yang Mulia () mengukuhkan penghujahan rasional yang menyucikan ini dalam himpunan tauhidnya serta penjelasan tentang ketidakmampuan akal meliputi Zat secara struktural, sebagaimana diriwayatkan asy-Syaikh al-Kulaini (sekitar 255–329 H / 864–941 M) dalam kitab al-Kafi (bab Jawami’ at-Tauhid) dari sebuah khutbah beliau:

“Segala puji bagi Allah yang benar dalam keawalan-Nya… Ia tidak disifati dengan suatu keadaan, tidak dibatasi oleh akal, dan tidak diserupakan dengan suatu contoh; Ia yang tidak menciptakan segala sesuatu dari bahan-bahan yang telah ada sebelumnya, melainkan menciptakannya dengan kuasa dan kehendak-Nya.”

2. Tuturan Inderawi dan Empiris (bagi pemilik pengamatan dan induksi)

Sebaliknya, Al-Qur’an memperhatikan bahawa golongan luas dari manusia bertumpu pada “indra dan pengalaman” sebagai perangkat pengetahuan awal untuk beralih dari yang inderawi menuju yang rasional, sehingga Ia mengajak mereka pada proses induktif dan pengamatan atas tatanan kosmis yang tampak:

Dalam penghujahan dengan tatanan yang tampak, Allah berfirman:

“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” [Al-Ghasyiyah: 17–18]

Di sini menyapa perangkat pengetahuan inderawi (penglihatan, pengamatan langsung) supaya manusia merenungkan rekayasa penciptaan yang menakjubkan serta pertautan fisik dan materiil yang mengatur alam, dan melalui ketelitian pembuatan inderawi, akal beralih dengan sendirinya menuju keagungan Sang Pembuat.

Dalam konteks ini, Rasul Yang Mulia () menjelaskan bahawa seluruh wujud luar tunduk kepada Sang Pembuatnya dan tidak dimuat oleh ruang materiil sebagaimana makhluk-Nya. Ketika seorang pendeta datang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, di manakah Allah?”, beliau menjawab sebagaimana diriwayatkan asy-Syaikh ash-Shaduq (306–381 H / 918–991 M) dalam kitab at-Tauhid:

“Ia berada di setiap tempat, tetapi tidak dalam tempat yang terbatas atau berdekatan; Ia terpisah dari makhluk-Nya, dan makhluk-Nya terpisah dari-Nya; penglihatan tidak dapat mencerap-Nya, sedangkan Ia mencerap semua penglihatan.”

3. Tuturan Fitri dan Batin (perangkat penyaksian batin)

Perangkat pengetahuan ini adalah yang terdalam dan terluas; sebab ia bersifat batiniah dan primer, tidak membutuhkan kerumitan istilah dan logika, tidak pula perangkat percobaan dan laboratorium, melainkan memancar dari asal penciptaan dan kesadaran manusia ketika ia terbebas dari pengaruh luar dan materi.

Dalam tauhid fitri yang umum, Allah berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.” [Ar-Rum: 30]

Al-Qur’an mengingatkan bahawa pengetahuan tentang Allah dan orientasi kepada-Nya tertanam dalam tabiat manusia sebagai program bawaan yang mendahului setiap pemikiran yang diajarkan.

Rasul Yang Mulia () mengukuhkan konsep epistemologis ini dalam riwayat kitab al-Kafi karya asy-Syaikh al-Kulaini (bab al-Fithrah) ketika ditanya tentang ayat ini dan tafsir fitrinya, beliau bersabda:

“Setiap anak dilahirkan atas fitrah, iaitu atas pengetahuan bahawa Allah Azza wa Jalla adalah Penciptanya.”

Hal itu menonjol dalam hujah kondisi terjepit (perwujudan fitrah dalam kesulitan): Al-Qur’an memusatkan perhatian pada model inderawi dan kejiwaan yang cermat yang menyingkap bagaimana ilusi-ilusi tersibak dan fitrah bergerak di luar kehendak pemiliknya ketika seluruh sebab materiil terputus sama sekali, iaitu pada adegan penumpang kapal di lautan. Allah berfirman:

“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, (tiba-tiba) datanglah badai dan gelombang menimpa mereka dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata: ‘Sekiranya Engkau menyelamatkan kita dari (bahaya) ini, pasti kita termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka berbuat kezaliman di bumi tanpa (alasan) yang benar.” [Yunus: 22–23]

Dalam analisis adegan ini secara falsafah dan epistemologis: dalam konteks teori pengetahuan, adegan ini menjelaskan kedalaman fitrah; sebab manusia dalam kondisi lapang dan lingkungan biasa mungkin berpaling kepada sebab-sebab materiil (seperti harta, kekuatan, gagasan ateistik, atau berhala dan tandingan) dan meyakini bahawa semua itu memiliki manfaat dan mudarat, sehingga menutupi seruan fitrah yang asli.

Namun ketika kondisi terjepit yang mutlak tiba, dan datang “badai serta gelombang dari segenap penjuru”, dan seluruh sebab materiil hancur sehingga tak tersisa harapan pada nahkoda, kapal, mahupun kekuatan diri (dan mereka mengira telah terkepung), tiba-tiba tersibaklah tabir. Pada saat genting itu, kesadaran manusia dan batinnya secara otomatis — tanpa perlu hujah kalam — mengarah kepada “kuasa mutlak yang gaib yang tak membutuhkan sebab”, sehingga mereka berdoa dengan tulus kepada Allah.

Inilah yang dijelaskan Imam Ja’far ash-Shadiq () (83–148 H / 702–765 M) dengan sangat gamblang ketika seorang lelaki bertanya kepadanya:

“Wahai putra Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku tentang Allah, apa Dia? Sungguh para pendebat telah memperbanyak (bantahan) atasku dan membuatku bingung.”

Maka Imam berkata kepadanya:

“Wahai hamba Allah, pernahkah engkau menaiki kapal?”

Ia menjawab: ya. Imam berkata:

“Pernahkah tali (kapal) putus di tempat yang tak ada kapal menyelamatkanmu dan tak ada keahlian berenang menolongmu?”

Ia menjawab: ya. Imam berkata:

“Apakah hatimu ketika itu bergantung bahawa ada sesuatu yang mampu menyelamatkanmu dari kesulitanmu?”

Ia menjawab: ya. Maka ash-Shadiq () berkata:

“Sesuatu itulah Allah, Yang Mahakuasa menyelamatkan ketika tak ada penyelamat, dan menolong ketika tak ada penolong.”

Adapun kembalinya mereka kepada pengingkaran selepas selamat (tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka berbuat aniaya), bukanlah bukti kesalahan fitrah, melainkan bukti bahawa “kelalaian, kebodohan, dan hawa nafsu” kembali menutupi sumber batin yang jernih itu begitu sebab-sebab materiil dan kelapangan kembali, yang mencerminkan pergulatan epistemologis abadi dalam jiwa manusia antara seruan fitrah yang jelas dan kebisingan alam materi serta gangguannya.

Melalui keberagaman ini, Al-Qur’an mengklasifikasikan ayat-ayatnya supaya selaras dengan struktur akal manusia dengan segala coraknya; sang filsuf menemukan tujuannya dalam hujah sabr dan tamanu`, ilmuwan alam menemukan kebutuhannya dalam ayat-ayat ufuk dan jiwa, dan manusia sederhana atau yang terjepit menemukan maksudnya dalam seruan fitrah yang dalam.


2. Klasifikasi Tauhid dalam Ayat-Ayat Muhkam dan Riwayat

Berdasarkan perangkat-perangkat pengetahuan ini, Al-Qur’an dan Sunnah membagi tauhid dalam ayat dan nas yang diriwayatkan menjadi tiga pilar utama:

1. Tauhid Zati (keahadan Zat, kesederhanaannya, dan penafian bilangan)

Al-Qur’an membahas keesaan Zat dan penafian susunan darinya dengan gaya yang komprehensif dalam Surah al-Ikhlas:

“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa (Ahad).’” [Al-Ikhlas: 1]

Penggunaan kata “Ahad” alih-alih “Wahid” adalah isyarat Al-Qur’an yang sangat cermat; sebab “wahid” boleh berarti bagian pertama dari deret bilangan yang menerima pembagian dan penambahan, sedangkan “Ahad” adalah hakikat sederhana yang mutlak yang tak berbagian dan tak bercabang, serta tak menerima pemajemukan dengan cara apa pun.

Rasul Yang Mulia () membongkar konsep ini dengan cermat dan memurnikannya dari pemahaman bilangan yang materiil, sebagaimana diriwayatkan asy-Syaikh ash-Shaduq dalam al-Amali dan at-Tauhid dalam sabdanya kepada seorang Arab Badui yang bertanya tentang makna “wahid”, maka Nabi () bersabda:

“Adapun ucapanmu ‘wahid’, maknanya bahawa Ia tidak memiliki serupa di antara segala sesuatu, demikianlah Tuhan kita. Ia juga bermakna bahawa Ia Esa dalam makna, iaitu Ia tidak terbagi dalam wujud, akal, mahupun khayalan, demikianlah Tuhan kita Azza wa Jalla.”

Dalam hal ini Amirul Mukminin Imam Ali () (23 SH–40 H / 599–661 M) menuturkan dengan luas dalam khutbah pertama Nahjul Balaghah penyucian Zat yang ahadi dari pembatasan dan bilangan:

“Yang sifat-Nya tidak memiliki batas yang membatasi… Kesempurnaan tauhid adalah keikhlasan kepada-Nya; barangsiapa memberi-Nya sifat keadaan, ia belum mengesakan-Nya; barangsiapa mengetahui-Nya secara batas, ia belum mencapai-Nya; barangsiapa menunjuk kepada-Nya, sungguh ia telah membatasi-Nya; dan barangsiapa membatasi-Nya, sungguh ia telah membilang-Nya.”

Demikian pula jawaban beliau () dalam Perang Jamal:

“Sesungguhnya perkataan bahawa Allah itu satu ada empat bagian: dua di antaranya tidak boleh atas Allah, dan dua lagi menetap pada-Nya… Adapun dua yang tidak boleh atas-Nya: iaitu perkataan ‘satu’ dalam kategori bilangan, ini tidak boleh, kerana sesuatu yang tak memiliki tandingan tidak masuk ke dalam kategori bilangan. Tidakkah engkau melihat bahawa kafirlah orang yang berkata: sesungguhnya Ia salah satu dari tiga?“

2. Tauhid Sifati (kekayaan mutlak, penafian kekurangan, dan keidentikan sifat)

Al-Qur’an membahas sifat-sifat Sang Pencipta dengan menekankan dua persoalan:

Adapun penyucian mutlak (tanzih), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” [Asy-Syura: 11]

Ini adalah kaidah Al-Qur’an yang meruntuhkan setiap upaya menyerupakan sifat Sang Pencipta dengan sifat makhluk.

Adapun penetapan kesempurnaan, melalui sistem Asmaulhusna dalam firman-Nya:

“Dan Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” [Al-A’raf: 180]

Nama-nama seperti (Yang Maha Mengetahui, Yang Mahakuasa, Yang Mahahidup) bukanlah sifat yang tambahan atas Zat lalu bertempat di dalamnya, melainkan ungkapan atas kesempurnaan Zat dan keidentikannya, sebab Zat ilahi adalah ilmu itu sendiri dan kuasa itu sendiri.

Bukti riwayat terkuat atas keidentikan sifat dengan Zat serta penafian tambahan dan perbedaan konseptual adalah sabda Imam Ali ():

“Dan kesempurnaan keikhlasan kepada-Nya adalah menafikan sifat-sifat dari-Nya, kerana setiap sifat bersaksi bahawa ia bukan yang disifati, dan setiap yang disifati bersaksi bahawa ia bukan sifat. Maka barangsiapa menyifati Allah, sungguh ia telah menyandingkan-Nya; barangsiapa menyandingkan-Nya, ia telah menduakan-Nya; barangsiapa menduakan-Nya, ia telah membagi-Nya; dan barangsiapa membagi-Nya, sungguh ia telah jahil terhadap-Nya.”

3. Tauhid Af’ali (penafian adanya pengaruh yang mandiri dalam wujud)

Al-Qur’an menjelaskan bahawa gerak dan diamnya alam semesta tidak terjadi kecuali dengan ketentuan dan kehendak-Nya:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” [Az-Zumar: 62]

Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan tidak ada yang berpengaruh dalam wujud selain-Nya, dan seluruh sebab materiil di alam semesta bersumber dari kausalitas-Nya yang pertama.

Dalam kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh ash-Shaduq, Rasul Yang Mulia () menyandarkan tauhid af’ali dan pasokan wujud ini kepada kehendak dan kepemeliharaan (qayyumiyyah) ilahi yang berkuasa atas hamba, melalui riwayat qudsi-nya:

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, dengan kehendak-Ku engkau menjadi orang yang menghendaki bagi dirimu apa yang engkau kehendaki, dengan kekuatan-Ku engkau menunaikan kewajiban-kewajiban-Ku, dan dengan penjagaan serta kuasa-Ku engkau kuat untuk bermaksiat kepada-Ku. Aku jadikan engkau mendengar, melihat, dan kuat. Apa pun kebaikan yang menimpamu, ia dari Allah, dan apa pun keburukan yang menimpamu, ia dari dirimu sendiri.”


3. Manhaj Ahlulbait (as) dalam Menjaga Aqidah Tauhid

Penjelasan () hadir untuk mewakili garis pertahanan rasional yang tegas guna menjaga aqidah Islam dari penyimpangan, di mana pemaparan mereka bercirikan dua keistimewaan pokok:

1. Berdiri di “Zona Tengah” (antara tasybih dan ta’thil)

Mazhab-mazhab teologi terbelah dalam memahami sifat-sifat Allah menjadi dua kutub yang melahirkan kepincangan epistemologis:

Satu kutub jatuh ke dalam “tasybih” (penyerupaan): mereka memahami nas-nas sifat secara materiil dan menjadikan Sang Pencipta memiliki rupa dan arah (ini kepincangan yang membatalkan penafian kejasmanian). Kutub lain jatuh ke dalam “ta’thil” (pengosongan makna): mereka memandang bahawa penyucian menuntut pengosongan sifat-sifat dari maknanya, sehingga Tuhan menurut mereka menjadi sekadar gagasan mental yang gaib tanpa keberadaan nyata bagi sifat-sifatnya (ini kepincangan yang membatalkan tauhid sifati).

Adapun sikap mazhab Ahlulbait, para imam () merumuskan manhaj yang menetapkan sifat secara hakiki sekaligus menafikan darinya keserupaan dengan materi. Imam Ja’far ash-Shadiq () berkata dalam menentukan sumber epistemologis ini:

“Suatu Zat dengan hakikat kebendaan (asli), keluar dari dua batas: batas pembatalan dan pengosongan makna, serta batas penyerupaan.”

Maka sifat itu tetap tetapi ia adalah Zat itu sendiri tanpa kaifiah materiil.

Hal itu diperkuat oleh riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir () (57–114 H / 676–733 M) dalam sabdanya yang tegas untuk menghancurkan ilusi falsafah materialis dan tajsim:

“Segala sesuatu yang kalian bedakan dengan khayalan kalian, dalam makna-maknanya yang paling halus sekalipun, adalah makhluk yang dibuat seperti kalian, dan dikembalikan kepada kalian.”

Serta sabda Imam Ali bin Musa ar-Ridha () (148–203 H / 765–818 M) dalam pemaduan yang tegas antara penyucian dan penetapan sifat:

“Sesungguhnya Allah terpisah dari makhluk-Nya, dan makhluk-Nya terpisah dari-Nya… Barangsiapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia musyrik; dan barangsiapa menafikan dari-Nya apa yang Ia sifatkan bagi diri-Nya sendiri, ia adalah orang yang mengosongkan makna (mu’aththil).“

2. Memecahkan Problem Perbuatan (Perkara di antara Dua Perkara)

Ketika persoalan menjadi kabur bagi sebagian orang antara “jabr” (bahawa hamba dipaksa atas perbuatannya dan tak memiliki kehendak, seperti gerak bulu di udara) dan “tafwidh” (bahawa hamba sepenuhnya mandiri dengan perbuatannya lepas dari Allah, dan Allah menyerahkan kepadanya penciptaan serta pengaturan lalu menyingkir), Ahlulbait menyodorkan solusi rasional yang menentukan:

“Tidak ada keterpaksaan (jabr) dan tidak pula pelimpahan penuh (tafwidh), melainkan suatu perkara di antara dua perkara.”

Perbuatan manusia memiliki dua penyandaran: penyandaran kepada hamba kerana ia melakukan perbuatan dengan kehendak bebas dan pilihannya, serta penyandaran kepada Allah kerana Dialah yang melimpahkan kepada hamba kuasa, kehidupan, perangkat, dan kehendak pada setiap saat dan proses. Seandainya pasokan ilahi dan pancaran wujud terputus satu saat sahaja, niscaya batallah perbuatan hamba dan lenyaplah jejaknya.


4. Penjelasan seputar Tauhid Perbuatan dan Syubhat Tawasul

Dalam pembicaraan tentang tauhid af’ali (bahawa Allah adalah satu-satunya yang berpengaruh), kadang muncul pertanyaan selintas tentang persoalan “” kepada Nabi () atau Ahlulbaitnya (), dan sebagian orang menyangka bahawa hal itu mencederai tauhid atau menyerupai penyembahan berhala. Untuk menyederhanakan poin ini dan menyingkirkan ilusi, akal dan Al-Qur’an meletakkan pembedaan yang tegas antara dua rekayasa pengaruh:

1. Kausalitas Horizontal (`ardhiyyah) (syirik yang batil)

Iaitu keyakinan bahawa ada pihak lain yang berpengaruh dalam alam semesta sejajar dengan Allah dan menjadi tandingan-Nya, secara mandiri lepas dari kehendak dan iradah-Nya. Inilah syirik yang diperangi Islam; dan inilah pola yang menjerumuskan kaum kafir Mekah ketika mereka meyakini bahawa berhala-berhala memiliki kekuasaan mandiri, manfaat, dan mudarat yang mendekatkan mereka kepada Allah, tanpa izin atau penetapan syar’i dari-Nya.

2. Kausalitas Longitudinal (thuliyyah) (tauhid murni)

Iaitu keimanan bahawa satu-satunya pemberi sebab dan pengaruh yang mandiri pada esensinya adalah Allah, dan bahawa setiap pengaruh makhluk lain hanya terjadi dalam garis (memanjang di bawah) kehendak ilahi, iaitu dengan pasokan dari-Nya, izin-Nya, serta di bawah kekuasaan dan penetapan-Nya.

Peletakan epistemologis yang cermat tentang kausalitas longitudinal dan pengaruh sebab-sebab yang terikat kehendak ini hadir secara gamblang dalam wasiat Rasul Yang Mulia () kepada Ibnu Abbas (3 SH–68 H / 619–687 M):

“Ketahuilah, sekiranya umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu; dan sekiranya mereka berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Maka makhluk dan jejak di sini tidak menandingi Sang Pencipta Yang Mahaagung, melainkan sekadar “wasilah” yang ditetapkan-Nya, yang Allah perintahkan hamba untuk menuju melaluinya dan menaatinya, sebagaimana dalam ayat muhkam:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekat) kepada-Nya.” [Al-Ma’idah: 35]

Contoh-contoh Qur’ani atas Pandangan Longitudinal untuk Menafikan Kontradiksi:

  • Dalam mematikan: Al-Qur’an sekali berfirman:

“Allah yang mewafatkan jiwa (seseorang).” [Az-Zumar: 42]

Dan pada ayat lain:

“Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu.’” [As-Sajdah: 11]

Malaikat maut bekerja dengan izin Allah dan dalam garis perintah serta kuasa-Nya, sehingga tak ada kontradiksi dan tak ada syirik.

  • Dalam perbuatan dan melempar: Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

“Dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar.” [Al-Anfal: 17]

Yang melempar secara langsung dan menggerakkan adalah Rasul dengan tangan mulianya, tetapi Al-Qur’an menafikan kemandiriannya secara horizontal; sebab lemparan dan pengaruhnya terjadi dalam garis kekuatan Allah, taufik, dan pasokan wujud-Nya.

Pandangan longitudinal ini menjadi jelas dalam rangkaian pengaruh:

Allah Subhanahu — pemberi sebab pertama dan pemancar yang mandiri pada esensi-Nya ↓ (dengan izin, pasokan, dan penetapan wujud) Rasul / wasilah dan sebab-sebab yang diizinkan ↓ (pelaksanaan perbuatan dan jejak secara longitudinal) Hasil dan jejak yang terwujud di alam semesta

Berdasarkan isyarat rasional dan riwayat ini, menjadi jelas bahawa orang yang bertawasul dengan Rasul dan para wali () tidak menempatkan mereka sebagai tandingan Allah (secara horizontal), melainkan mendatangi mereka sebagai sebab dan wasilah yang dimuliakan Allah dan diizinkan-Nya untuk memberi syafaat dan perantaraan pancaran (secara longitudinal). Menuju wasilah dengan izin dan perintah Allah adalah inti kepatuhan, penghambaan, dan ketaatan, bukan syirik sebagaimana disangka oleh orang yang jahil terhadap pembedaan logis dan riwayat antara kemandirian total dan kebergantungan wujud yang terikat.


Penutup

Penyelidik di sini berhenti merenungkan keselarasan yang indah ini; di mana bertemu bukti-bukti akal yang abstrak dengan nas-nas ilahi, himpunan khutbah Sunnah kenabian Rasulullah, serta penjelasan Ahlulbait yang gamblang, sehingga berpadu perangkat pengetahuan inderawi, rasional, dan fitri dalam satu pelita. Sebab Allah Subhanahu itu Esa dalam Zat, sifat, dan perbuatan-Nya, dan segala selain-Nya bergerak dengan pancaran, izin, dan kepemeliharaan-Nya yang mutlak.

Dan selepas kita mampu menyelami kedalaman sifat-sifat Sang Pencipta dari dua perspektif, rasional dan wahyu yang diriwayatkan… menonjol di hadapan kita cakrawala baru untuk kajian dan perenungan yang melengkapi: bagaimana Tuhan Yang Mahaagung ini memperkenalkan diri-Nya kepada umat manusia melalui rincian nas-nas Qur’ani lainnya? Dan bagaimana pengetahuan ini menampak dalam doa-doa dan khutbah-khutbah yang bersumber dari mazhab Ahlulbait () untuk menggariskan bagi manusia jalur epistemologis dan praktis yang terpadu?

Tidak ada keterpaksaan (jabr) dan tidak pula pelimpahan penuh (tafwidh), melainkan suatu perkara di antara dua perkara.
— Imam Ja'far ash-Shadiq (83–148 H / 702–765 M) (AS)