Perjalanan akal, iman dan kebenaran

Jalan pencarian dari A hingga Z

Peta jalan logik, langkah demi langkah, untuk memahami ajaran Islam dengan nalar, kejelasan dan tujuan.

Asal

Bahagian Wujud: Material dan Abstrak

Ringkasnya

Wujud tidak terhad kepada materi; terdapat wujud material yang dapat dirasakan, dan wujud abstrak yang difahami akal dalam undang-undang, makna, kesedaran, dan roh.

Pengenalan: Hakikat Wujud

Selepas bukti rasional mapan dan menuntun kita dengan keniscayaan logis kepada penetapan Sebab Pertama dan keberadaan Sang Pencipta, kajian falsafah menuntut peralihan ke sebuah pertanyaan pokok yang melengkapi: apakah wujud yang diadakan Allah atau dipancarkan Sebab Pertama ini? Apakah ia hanya alam semesta yang lazim kita kenal dengan benda-benda langitnya, planet-planetnya, galaksi-galaksinya, dan atom-atomnya? Yakni, apakah seluruh wujud terbatas pada alam materi yang teraba dan fisik ini, yang tunduk pada laboratorium dan indra?

Menentukan jawaban yang tepat atas pertanyaan ini merupakan batu fondasi untuk memahami hakikat keberadaan; sebab boleh jadi segala yang diadakan Sang Pencipta terbatas pada cakrawala materi, atau boleh jadi wujud memiliki dimensi dan rahasia lain yang melampaui batas pengamatan inderawi. Dan supaya kajian berjalan dalam garis menanjak yang kokoh, metode yang membuktikan menuntut supaya kita mulai terlebih dahulu dengan memeriksa dalil-dalil rasional dan penyaksian batin yang menguraikan bagi kita struktur wujud ini serta bagian-bagian esensialnya.


1. Bukti-Bukti Rasional atas Terbaginya Wujud menjadi Materiil dan Abstrak

Para filsuf tidak sampai kepada keberadaan alam abstrak melalui firasat atau terkaan, melainkan melalui hukum pertentangan dan kontras logis; di mana mereka mendapati bahawa membatasi wujud pada materi menjerumuskan akal ke dalam kontradiksi-kontradiksi logis yang tak terpecahkan. Berikut ini dalil-dalil rasional dan penyaksian batin yang membuktikan pembagian tersebut.

1. Hujah Konsep Universal dan Hukum Matematis

Seandainya segala yang ada bersifat materiil, maka setiap wujud pasti tunduk pada dimensi, bobot, dan perubahan. Namun ketika kita memeriksa hukum-hukum matematis dan geometris, kita mendapatinya sebagai hakikat mutlak yang sahih dan menjadi fondasi bagi ilmu serta teknologi.

Andaikan kita menyusuri seluruh alam materi, kita tak akan menemukan “garis lurus tanpa lebar” yang memiliki wujud fisik yang teraba. Ia adalah wujud nyata yang tetap, tetapi tempat keberadaannya adalah cakrawala yang abstrak dari materi dan atribut-atributnya. Demikian pula halnya dengan konsep-konsep moral universal seperti keadilan dan kebenaran; keadilan bukanlah benda yang kita lihat di laboratorium, namun ia adalah hakikat nyata yang kita cerap dan kita bedakan dari kezaliman, dan ketiadaan materialitas padanya tidak menafikan keberadaannya melainkan menetapkan keabstrakannya. Plato (sekitar 427–347 SM) mewakili arah ini dengan jelas dalam pembicaraannya tentang konsep universal dan ide.

2. Hujah Materi dan Bentuk Universal

Aristoteles (384–322 SM) tidak membuktikan wujud abstrak melalui keterpisahan penuh dari alam materi, melainkan melalui pembedahan benda materiil itu sendiri lewat teori “materi dan bentuk” (Hylomorphism).

Jika engkau memandang sebuah kursi kayu, ia tersusun dari materi iaitu kayu, dan bentuk iaitu wujud geometris kursi itu. Kayu sebagai materi dapat berubah, sehingga menjadi meja atau terbakar menjadi abu. Adapun bentuk universal kursi atau meja di dalam akal adalah hakikat tetap dan abstrak yang tidak terbakar dan tidak lenyap. Seandainya tidak ada bentuk abstrak yang tetap di dalam akal, niscaya materi tetap kabur dan tak tertentukan. Maka setiap makhluk di alam semesta tersusun dari materi yang berubah dan bentuk abstrak yang tetap, yang memberi sesuatu itu identitas dan jenisnya.

3. Hujah Kesederhanaan Diri yang Mencerap

Hujah ini, yang dalam falsafah modern terkait dengan René Descartes (1596–1650 M), bertumpu pada kaidah logis yang berbunyi: sifat yang bertempat menunjukkan sifat tempatnya. Di alam materi, setiap wadah yang terbagi, terbagi pula secara otomatis apa yang ada di dalamnya. Sebab materi terbentang di dalam ruang dan dapat terbagi serta terpecah.

Sebaliknya, ketika engkau mencerap suatu hakikat rasional universal, gagasan ini merupakan hakikat sederhana dan tunggal yang mustahil dibagi; engkau tidak dapat secara logis mengatakan: kutaruh separuh informasi ini di belahan kanan otakku dan separuh lainnya di belahan kiri. Kerana gagasan dan kesadaran itu sederhana dan abstrak, tidak menerima pembagian, maka tempat yang menampungnya — iaitu jiwa atau ruh — pasti secara logis perlu sederhana dan abstrak pula seperti keduanya; sebab yang materiil hanya dapat ditempati oleh sesuatu yang ikut terbagi dengan pembagiannya.

4. Hujah Penggilingan dan Kemustahilan Materialitas Pikiran

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716 M) merumuskan hujah ini untuk membatalkan gagasan yang mengklaim bahawa materi dapat menghasilkan kesadaran atau pikiran melalui susunan mekanisnya.

Leibniz meminta kita membayangkan otak manusia yang telah diperbesar secara geometris sehingga sebesar penggilingan raksasa yang dapat kita masuki dan telusuri di dalamnya. Seandainya kita menjelajah di dalam otak yang diperbesar ini, semua yang akan kita lihat hanyalah gerak roda gigi, molekul-molekul yang saling bertumbukan, dan aliran-aliran listrik yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Betapapun kita menggeledah mekanisme materiil ini, kita tak akan menemukan sesuatu yang bernama gagasan, perasaan, atau pemahaman; kita hanya akan menemukan gerak materiil. Dan kerana gerak materiil hanya menghasilkan gerak materiil serupa, sementara kesadaran dan pemahaman benar-benar ada, maka keduanya tidak termasuk pada mesin materiil, melainkan merupakan wujud abstrak dan sederhana yang sama sekali berbeda dari materi.

5. Hujah Kebebasan Moral dan Determinisme Materi

Hujah ini, menurut Immanuel Kant (1724–1804 M) dan mereka yang menempuh jalannya, berangkat dari perilaku dan kehendak manusia untuk membuktikan adanya alam yang melampaui materi.

Segala sesuatu di alam materi tunduk pada determinisme fisik yang berlandaskan sebab dan akibat; batu jatuh kerana gravitasi secara terpaksa, dan air mendidih kerana panas secara terpaksa. Seandainya manusia adalah materi murni, niscaya seluruh pikiran dan perilakunya terpaksa dan tunduk pada determinisme fisika-kimia otak. Namun manusia memiliki kehendak bebas (Free Will) dan merasakan tanggung jawab moral; ia memilih antara jujur dan dusta, antara adil dan zalim. Dan kerana kebebasan dan moralitas adalah hakikat batin yang tak dapat diingkari, sementara keduanya mustahil terjadi di alam materi yang deterministik, maka akal memutuskan bahawa manusia memiliki dimensi yang termasuk pada apa yang di balik materi, iaitu wujud abstrak yang tidak dikendalikan hukum-hukum fisika materi.

6. Hujah Kemustahilan Tercetaknya yang Besar dalam yang Kecil

Di alam materi, supaya gambar sesuatu yang besar tercetak di dalam sesuatu yang kecil, gambar itu perlu mengecil secara fisik atau terpecah, seperti tergambarnya gunung raksasa pada keping kamera yang kecil. Namun ketika engkau memejamkan mata dan membayangkan alam semesta yang luas dengan galaksi-galaksinya yang membentang, gambar raksasa ini hadir dalam kesadaranmu dengan dimensinya yang besar; engkau tidak melihatnya mengecil seperti perangko, melainkan melihatnya dengan keagungannya.

Dan kerana otak materiil sebagai organ fisik ukurannya tak lebih dari beberapa sentimeter, maka mustahil secara logis tertampungnya yang besar dalam yang kecil secara materiil. Kehadiran benda-benda besar dengan dimensinya di dalam kesadaranmu ini membuktikan bahawa daya yang mencerap bukanlah tempat fisik yang sempit, melainkan cakrawala wujud abstrak yang tidak tunduk pada hukum luas dan ukuran materiil.

7. Hujah Kualitas Kejiwaan versus Kuantitas Materiil

Setiap gejala materiil dapat diukur secara kuantitatif dan diungkapkan dengan bahasa angka serta timbangan. Sebaliknya, kita mendapati bahawa keadaan-keadaan manusiawi dan kesadaran, seperti rasa sakit, cita rasa keindahan, kehendak bebas, dan niat, adalah kualitas batin (Qualia) dan bukan kuantitas.

Seandainya kita mendatangkan piranti tercanggih untuk memantau otak seseorang yang kesakitan, piranti itu hanya akan merekam gerak kimiawi dan sinyal saraf, tetapi ia tak akan merekam muatan batin itu sendiri; sebab kita tak dapat mengatakan bahawa orang ini merasakan lima kilogram rasa sakit. Perbedaan mendasar ini membuktikan bahawa sinyal saraf hanyalah alat, sedangkan yang benar-benar merasa adalah wujud abstrak yang termasuk pada alam kualitas, bukan alam materi dan kuantitas.


2. Definisi yang Materiil dan yang Abstrak serta Bagaimana Para Filsuf Merumuskannya

Selepas dalil-dalil pembagian mapan, definisi dan karakteristik esensial masing-masing bagian menjadi terpilah dalam pemikiran falsafah.

1. Wujud Materiil: Definisi dan Karakteristiknya

Materi adalah setiap wujud yang menempati ruang, memiliki massa, serta menjadi objek pencerapan inderawi dan pengukuran fisik. Ia bercirikan tiga karakteristik struktural:

  • Keterbentangan dan dimensi (Extension and Dimensions): segala yang materiil terbagi di dalam ruang dan memiliki dimensi: panjang, lebar, dan kedalaman, sehingga niscaya dapat dipecah dan dibagi.
  • Gerak dan perubahan yang berkelanjutan (Motion and Change): materi tidak tetap pada satu keadaan, melainkan berada dalam proses menjadi yang terus-menerus dan peralihan berkelanjutan dari satu bentuk ke bentuk lain, seperti tumbuh dan mengurai.
  • Kefanaan dan penguraian (Corruption and Dissolution): kerana kemampuannya terbagi dan terpengaruh waktu, maka susunan materiil niscaya berakhir pada peruraian dan penguraian, serta hilangnya keabadian identitas susunannya.

2. Wujud Abstrak: Definisi dan Karakteristiknya

Yang abstrak (Immaterial / Abstract) adalah wujud aktual nyata yang bebas dari materi dan atribut-atributnya; ia tidak menempati ruang, tidak tunduk pada ukuran-ukuran fisik, tetapi ia tetap dan terwujud. Ia bercirikan karakteristik yang berlawanan dengan materi:

  • Kesederhanaan dan tak terbagi (Simplicity and Indivisibility): wujud abstrak tidak memiliki dimensi dan tidak terbentang di dalam ruang, sehingga mustahil dibagi atau dipecah; ia adalah satu kesatuan yang sederhana.
  • Ketetapan yang kekal (Immutability): yang abstrak berada di luar kerangka waktu dan tempat fisik, sehingga tidak berlaku padanya gerak jasmani dan tidak berubah pada dirinya, melainkan menjaga hakikat dan substansinya tanpa proses menjadi.

3. Bagaimana Para Filsuf Mendefinisikannya?

Pythagoras (sekitar 570–495 SM) dan kaum Pythagorean mendefinisikan keabstrakan melalui perenungan mereka atas bilangan; benda-benda materiil yang terbilang itu fana dan berubah, sedangkan bilangan dan hukum matematis pada dirinya adalah hakikat mutlak dan tetap yang tidak fana dan tak tersentuh tangan, sehingga mereka menyimpulkan bahawa substansi sejati alam semesta adalah alam hakikat-hakikat matematis yang abstrak.

Parmenides (sekitar 515–450 SM) membedakan secara logis antara alam inderawi yang materiil, yang ia pandang sebagai alam proses menjadi dan perubahan, dan alam akal, tempat wujud sejati bersifat tetap, satu, tidak berubah, dan tak terbagi.

Adapun Plato (Plato), ia merumuskan argumennya yang masyhur yang berpijak pada kuiditas universal melalui teori ide (Theory of Forms), dan menegaskan bahawa konsep universal yang tetap di akal kita tak mungkin muncul dari alam materi yang berubah dan fana, melainkan berada di alam yang mandiri, sederhana, dan bercahaya, iaitu alam ide, dan tidaklah alam materi kecuali bayang-bayang yang cacat darinya.

Aristoteles (Aristotle) membuktikan keabstrakan dari dalam segala sesuatu itu sendiri melalui teori materi dan bentuk; makhluk-makhluk tersusun dari materi awal yang dapat berubah, dan bentuk universal (Form) yang merupakan hakikat rasional abstrak dan tetap yang memberi materi hakikat dan jenisnya.

René Descartes (René Descartes) meletakkan dualisme tajam (Cartesian Dualism) yang di dalamnya ia membuktikan bahawa ciri utama segala yang materiil adalah keterbentangan, sedangkan ciri utama jiwa adalah berpikir dan kesadaran. Dan kerana keduanya sifat yang bertentangan, maka diri yang berpikir mandiri pada wujud esensialnya dari materi.

Gottfried Wilhelm Leibniz (Gottfried Wilhelm Leibniz) mengajukan hujah penggilingan, dan membuktikan bahawa kesadaran termasuk pada substansi sederhana yang tak terbagi dan abstrak dari materi serta atribut-atribut fisiknya, dan ia menamainya “monad” (Monads), iaitu substansi-substansi tunggal yang abstrak.

Adapun Baruch Spinoza (1632–1677 M), ia membuktikan bahawa wujud menampakkan diri kepada kita melalui dua atribut yang berbeda: atribut keterbentangan, iaitu materi fisik, dan atribut berpikir, iaitu kesadaran dan akal yang abstrak, yang berarti bahawa aktivitas rasional bukanlah salah satu bentuk keterbentangan materiil.

Immanuel Kant (Immanuel Kant) membedakan antara alam gejala materiil (Phenomena) yang tunduk pada indra dan hukum fisika deterministik, dan alam sesuatu pada dirinya sendiri yang abstrak (Noumena) yang di dalamnya terwujud jiwa dan kebebasan moral, dengan membuktikan bahawa seandainya manusia adalah materi murni yang tunduk pada determinisme fisik, niscaya ia tak akan memiliki kehendak bebas.

Fakhruddin ar-Razi (544–606 H / 1150–1210 M) merumuskan argumen-hujah rasional untuk membuktikan kemandirian jiwa dari ruang dan tempat, di antaranya hujah kelalaian dari tubuh; ia menjelaskan bahawa manusia boleh sahaja tenggelam dalam pemikiran rasional yang mendalam sehingga sepenuhnya lupa akan anggota badan dan tubuhnya, namun demikian kesadaran akan dirinya dan perasaan akan keberadaannya tetap berada di puncak kesigapan, yang membuktikan bahawa diri yang sadar berbeda dari tubuh materiil.

Edmund Husserl (1859–1938 M) mengembalikan kedudukan keabstrakan melalui prinsip intensionalitas (Intentionality) dalam kesadaran; kesadaran bercirikan melampaui otak materiil untuk terhubung dengan hal-hal di luar waktu dan tempat, seperti memikirkan konsep keadilan mutlak. Seandainya kesadaran hanyalah reaksi kimiawi yang terkurung di dalam tempurung kepala, niscaya ia tak mampu keluar dan melampaui batas-batas fisiknya.


3. Makhluk-Makhluk Materiil Lain dalam Timbangan Keabstrakan

Para filsuf tidak membatasi pandangan keabstrakan mereka pada Sang Pencipta dan manusia sahaja, melainkan menundukkan pula makhluk-makhluk materiil yang bisu — seperti atom, planet, dan galaksi — serta makhluk hidup seperti tumbuhan, untuk menjelaskan hakikatnya: apakah ia semata-mata materi padat, ataukah ia memiliki bagian dari cakrawala keabstrakan? Pandangan mereka beragam sesuai aliran-aliran besar.

1. Analisis Struktural dalam Mazhab Peripatetik

Aristoteles dan mazhabnya, beserta Ibnu Sina (370–428 H / 980–1037 M) dalam perpanjangan falsafah peripatetik Islam, memandang bahawa setiap makhluk materiil yang teramati di alam semesta tak dapat terwujud di alam luar kecuali dengan susunan substansial antara materi dan bentuk.

Hayula atau materi awal adalah sisi fisik murni pada planet atau benda mati, iaitu materi buta yang kosong dari ciri atau bentuk apa pun dan dapat berubah terus-menerus. Adapun bentuk spesies (Universal Form) adalah sisi abstrak dan tetap; planet bukanlah timbunan partikel acak, melainkan pada materinya dituangkan bentuk keplanetan abstrak yang memberinya hukum-hukum astronomis, tatanan, dan identitas yang tetap. Demikian pula tumbuhan, dikendalikan oleh bentuk tumbuhan abstrak yang mengatur fungsi-fungsinya berupa pertumbuhan dan nutrisi.

Kesimpulannya, planet dan benda mati adalah makhluk materiil pada tubuh dan kerangka astronomisnya, tetapi dikendalikan dan ditegakkan oleh bentuk dan hukum yang abstrak. Seandainya tidak ada asas abstrak ini, niscaya materi tak akan terpilah dan tak akan tertata dalam hukum-hukum fisika yang tetap.

2. Mazhab Platonik dan Teori Ide

Plato (Plato) menempuh arah yang lebih radikal; ia menganggap bahawa planet, bintang, benda mati, dan hewan yang kita lihat dengan mata kita tidak memiliki hakikat asali di alam fisik ini.

Setiap benda langit atau makhluk mati yang tertangkap indra hanyalah bayang-bayang materiil yang berubah dari suatu asal yang nyata, tetap, universal, dan bercahaya yang bersemayam di alam mandiri, iaitu alam ide (Theory of Forms). Planet-planet yang teramati adalah bayang-bayang yang berlalu dari gagasan planet yang sempurna dan abstrak yang menetap di cakrawala bercahaya itu.

3. Mazhab Eksistensial dan Gerak Substansial

Mulla Sadra (979–1050 H / 1571–1640 M) menolak gagasan kebekuan materi pada benda-benda langit dan atom, dan merumuskan baginya dimensi penguatan (isytidadi) yang mengaitkannya dengan keabstrakan.

Menurutnya, wujud adalah satu aliran, dan materi pada planet atau benda mati bukanlah beku, melainkan berada dalam keadaan gerak dan penguatan yang terus-menerus pada diri dan substansinya. Makhluk-makhluk yang beku secara batiniah menyimpan tingkatan yang rendah dan sederhana dari perjalanan wujud, dan ia bergerak menanjak dalam tahap-tahapnya untuk secara mandiri cenderung menuju pembebasan bertahap dari belenggu materi murni dan mendekati tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi di cakrawala keberadaan dan keabstrakan.


4. Apakah Tuhan Materiil atau Abstrak?

Berdasarkan pembedaan logis sebelumnya antara yang materiil dan yang abstrak, kajian rasional mengarah kepada Sebab Pertama untuk mengetahui hakikat wujud ini. Akal memutuskan secara tegas bahawa adalah wujud abstrak yang sempurna, disucikan dari materialitas secara mutlak.

1. Hujah Keniscayaan Wujud dan Penafian Pembagian

Para filsuf, di antaranya Ibnu Sina (Avicenna) dalam membangun argumennya atas , membuktikan bahawa Sebab Pertama perlu merupakan pada esensinya; iaitu mahakaya dari segala sesuatu dan tidak membutuhkan pengada.

Seandainya Allah materiil, niscaya Ia terbentang dan berdimensi, dan segala yang terbentang tersusun dari bagian-bagian dan dapat terbagi. Sedangkan sesuatu yang tersusun membutuhkan bagian-bagiannya dalam terwujudnya, sehingga keseluruhan membutuhkan bagian, dan kebutuhan sepenuhnya bertentangan dengan kedudukan yang mahakaya secara mutlak. Kerana itu, secara rasional Allah perlu sederhana lagi tak tersusun, dan inilah hakikat wujud abstrak.

2. Hujah Penafian Perubahan dan Proses Menjadi

Sifat esensial materi adalah gerak, perubahan, dan peralihan dari satu keadaan ke keadaan lain; iaitu perpindahan dari potensi menuju aktus.

Perubahan berarti bahawa suatu diri kehilangan suatu kesempurnaan lalu merindukannya, atau terkena atribut-atribut waktu dan tempat, seperti tumbuh atau berpindah. Adapun perlu merupakan kesempurnaan mutlak dan tetap yang tidak dihinggapi kekurangan atau proses menjadi; sebab gerak menuntut adanya penggerak yang mendahului. Dan kerana Allah disucikan dari gerak dan perubahan materiil, maka Ia niscaya adalah wujud abstrak yang berada di luar batas waktu dan tempat.


5. Penerapan pada Manusia

Jika wujud terbagi menjadi materiil dan abstrak, Sang Pencipta abstrak sempurna, dan makhluk-makhluk kosmis dikendalikan oleh bentuk-bentuknya, maka manusia mewakili titik pertemuan antara kedua alam ini; ia bukan sekadar mesin biologis yang fana, melainkan makhluk yang tersusun dari tubuh materiil dan jiwa atau ruh yang abstrak.

1. Hujah Ketetapan “Aku”

Sel-sel tubuh materiil manusia berubah dan berganti sepanjang tahun, dan dimensi fisiknya berubah dari masa kanak-kanak sehingga tua renta. Seandainya manusia adalah materi murni, niscaya konsekuensinya identitasnya berubah seiring perubahan materi dan selnya.

Namun kenyataan batin membuktikan bahawa manusia merasakan ketetapan identitas dan kesatuan dirinya, sehingga ia berkata: akulah yang melakukan itu dua puluh tahun lalu. Ketetapan dan kesinambungan kesadaran akan “aku” ini, meski materi tubuh berubah, membuktikan adanya substansi abstrak yang tetap di balik tubuh materiil, iaitu ruh.

2. Hujah Manusia Terbang menurut Ibnu Sina

Ibnu Sina (Avicenna) merumuskan hujah rasional murni ini untuk melampaui indra.

Ibnu Sina mengandaikan seandainya manusia diciptakan tiba-tiba dengan kesadaran dan akalnya yang utuh, lalu ditempatkan menggantung di udara hampa sedemikian rupa sehingga kelima indranya terhalang sepenuhnya, ia tak merasakan anggota badannya, kedua tangannya tak menyentuh tubuhnya, dan ia tak melihat serta tak mendengar apa pun. Ibnu Sina bertanya: apakah manusia ini menetapkan keberadaan dirinya? Jawabannya: ya, ia pasti tetap merasakan keberadaan dirinya dan bahawa ia ada, meski tanpa pencerapan apa pun atas tubuh materiilnya. Pencerapan langsung atas “aku” beserta kelalaian total dari tubuh ini membuktikan secara rasional bahawa diri yang sadar, iaitu ruh, adalah hakikat abstrak yang berbeda dari tubuh materiil dan bukan salah satu atributnya.

3. Teori Gerak Substansial menurut Mulla Sadra

Mulla Sadra (Mulla Sadra) mengembangkan pandangan falsafah yang mendalam yang menafsirkan pertautan integratif antara materialitas manusia dan ruhnya yang abstrak melalui teori gerak substansial.

Ia memandang bahawa ruh manusia tidak dijejalkan ke dalam tubuh dari luar secara mendadak, melainkan materi manusia — dari nutfah lalu janin — dalam gejolak gerak dan penguatan substansialnya, menyempurna dan menanjak naik sehingga membuahkan dan melahirkan wujud abstrak. Menurutnya ruh itu materiil dalam kebaruannya (jasmaniyyat al-huduts), iaitu pada awalnya muncul dengan bergantung pada tubuh materiil, tetapi abstrak dalam kelestariannya (ruhaniyyat al-baqa’); maksudnya, setiap kali ia tumbuh dan menyempurna dengan ilmu dan pengetahuan, ia semakin mandiri dari hukum-hukum materiil, sehingga apaapabila datang kematian, ia berpisah dari tubuh dan berlanjut dalam wujudnya yang khas, kerana ia telah benar-benar sampai pada tingkatan keabstrakan yang tak tersentuh kefanaan dan penguraian fisik.


Hasil Metodis

Berdasarkan penetapan rasional yang berurutan ini, kita sampai pada pandangan logis yang kokoh yang menegaskan bahawa wujud lebih luas daripada materi fisik yang bisu; sebab telah jelas bagi kita melalui bukti-bukti yang diajukan bahawa Sebab Pertama atau Sang Pencipta adalah wujud abstrak yang sempurna, dan bahawa segala yang materiil di alam semesta ini — dari planet dan atom sehingga manusia — adalah wujud yang memadukan sisi materiil dan sisi abstrak.

Dari titik yang telah terbukti ini, terbukalah pintu secara otomatis untuk memahami kajian-kajian selanjutnya tentang kesempurnaan ruh ini, kebutuhan akan syariat dan ibadah, serta keniscayaan hari kebangkitan dan keadilan ilahi.

Tidak setiap hakikat dapat ditimbang dan diukur; sebab akal mencerap suatu wujud abstrak yang tidak tunduk pada tempat, ukuran, dan pembagian.